Dewablog.com — Tragedi runtuhnya jembatan I-35W di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, pada 1 Agustus 2007 menjadi salah satu kecelakaan infrastruktur paling kelam dalam sejarah transportasi negara tersebut. Jembatan sepanjang 1.907 kaki yang melintasi Sungai Mississippi itu secara mendadak runtuh dalam waktu kurang dari tiga detik. Peristiwa nahas ini melibatkan bentang utama jembatan sepanjang 456 kaki yang jatuh dari ketinggian 108 kaki ke dalam sungai yang memiliki kedalaman sekitar 15 kaki.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pada saat kejadian berlangsung, tercatat sebanyak 111 kendaraan sedang melintas di atas struktur jembatan tersebut. Berdasarkan data resmi, total orang yang berada di lokasi saat keruntuhan terjadi mencapai 190 jiwa, di mana 13 orang dinyatakan meninggal dunia dan sisanya mengalami berbagai tingkat cedera. Kepanikan melanda kawasan tersebut ketika struktur bangunan yang seharusnya kokoh tiba-tiba ambruk secara total ke arah vertikal ke bawah.

Hasil investigasi mendalam yang dilakukan oleh Komite Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat atau National Transportation Safety Board (NTSB) mengungkapkan bahwa penyebab utama dari insiden tersebut adalah kapasitas beban pelat buhul yang terlalu tipis. Pelat buhul dengan ketebalan hanya 0,5 inci tersebut dinyatakan tidak mampu menahan beban struktural yang diterima, sehingga mengalami ketidakstabilan pergeseran yang fatal. Beban jembatan saat itu dinilai jauh melampaui batas kemampuan teknis dari komponen vital tersebut.

Situasi semakin diperburuk oleh adanya proyek pengerjaan pelapisan ulang beton di lokasi jembatan. Sebanyak empat lajur ditutup untuk pengerjaan tersebut, sehingga material konstruksi berupa tumpukan pasir, kerikil, serta peralatan berat dalam jumlah besar dikirim dan ditempatkan secara terpusat tepat di atas simpul rangka bentang tengah jembatan. Penempatan beban yang tidak merata ini memberikan tekanan berlebih pada titik yang sudah memiliki kelemahan desain sejak awal.

Kamera pengawas yang berada di sekitar lokasi berhasil merekam detik-detik awal keruntuhan struktur jembatan tersebut. Kegagalan material terpantau bermula dari sisi selatan bentang tengah, yang kemudian memicu efek domino bagi seluruh bagian jembatan. Dalam waktu kurang dari tiga detik, seluruh bentang tengah terpisah dari sisa struktur utama dan jatuh ke Sungai Mississippi dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Selain faktor teknis pada pelat buhul yang terlalu tipis, NTSB juga menyoroti adanya kekurangan dalam proses pengawasan dan peninjauan desain yang memadai oleh pihak berwenang. Kurangnya peninjauan desain yang komprehensif oleh pejabat transportasi tingkat federal, dalam hal ini Federal Highway Administration (FHWA), dinilai ikut berkontribusi dalam kegagalan sistemik yang menyebabkan kecelakaan tersebut terjadi.

Tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi dunia teknik sipil global terkait pentingnya standar keamanan material serta pengawasan beban kerja pada jembatan yang sedang dalam masa perbaikan. Standar ketebalan pelat dan analisis distribusi beban menjadi perhatian utama dalam setiap pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur transportasi besar setelah peristiwa memilukan di Minneapolis tersebut.