Dewablog.com — Pasar saham global diterpa gelombang aksi jual tajam pada sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) sepanjang pekan ini, yang turut menyeret harga komoditas penopang industri tersebut seperti tembaga dan timah. Kendati demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia justru berhasil ditutup menguat 0,4 persen ke level 5.050,4 pada perdagangan Jumat (6/11/2026) dengan catat aliran modal asing masuk sebesar Rp329,3 miliar.
Tekanan terhadap sektor kecerdasan buatan dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar pascakemenangan Partai Demokrat pada pemilu midterm Amerika Serikat. Kemenangan tersebut memunculkan ekspektasi pengetatan regulasi terhadap industri teknologi lanjutan. Partai Demokrat mengkampanyekan pengendalian dampak operasional AI, termasuk lonjakan konsumsi listrik dan penggunaan air oleh pusat data (data center) yang menuai protes masyarakat di beberapa negara bagian. Kondisi ini berbalik dari arah kebijakan Presiden Donald Trump yang sebelumnya mendukung ekspansi AI tanpa regulasi ketat serta menganggap isu keamanan AI bukan sebagai ancaman utama.
Akibat dinamika politik tersebut, indeks Nasdaq di Bursa Efek New York merosot 6,4 persen pada perdagangan Kamis (5/11/2026), memetakan penurunan harian terburuk sejak Maret 2020. Pada saat yang sama, indeks semikonduktor Philadelphia (SOX) anjlok hingga 12 persen. Dampak negatif ini merembet cepat ke bursa Asia pada Jumat (6/11/2026), di mana indeks Kospi Korea Selatan sempat terjun bebas 8,8 persen hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt), sebelum akhirnya ditutup melemah 5,3 persen. Sementara itu, indeks Taiex Taiwan juga mencatatkan koreksi sebesar 3,2 persen.
Pelemahan sektor AI secara langsung menekan pasar komoditas penopang infrastruktur teknologi. Harga tembaga di pasar global terkikis 1,2 persen menjadi US$13.843 per ton pada Kamis (5/11/2026), terakumulasi melemah 3,6 persen dalam sepekan dan menyentuh level terendah sejak Juli. Komoditas timah juga mengalami penurunan signifikan sebesar 3,2 persen pada hari yang sama, membawa pelemahan mingguan mencapai 8,5 persen.
Di sisi lain, tidak seluruh pasar berkembang mengalami tekanan serupa. Pasar saham India justru mencatatkan lonjakan hingga hampir 7 persen dalam sepekan terakhir karena dinilai sebagai aset penyerap alokasi modal non-AI (anti-AI trade) dengan dominasi ekonomi domestik. Penguatan bursa India juga didukung oleh penurunan harga minyak global, menyusul spekulasi bahwa kemenangan Partai Demokrat AS berpotensi mempercepat penyelesaian konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya Iran.
Di dalam negeri, pelemahan komoditas tembaga dan timah memberikan tekanan langsung terhadap emiten tambang domestik. Meski IHSG bergerak positif, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk ($AMMN) terkoreksi 1,1 persen, PT Merdeka Copper Gold Tbk ($MDKA) melemah 5,2 persen, dan PT Timah Tbk ($TINS) tergerus 2,6 persen pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Penurunan harga komoditas global dinilai menjadi tantangan bagi kinerja emiten-emiten tambang terkait dalam jangka pendek.
Di tengah dinamika pasar komoditas, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa sejumlah pengelola smelter utama berencana memangkas volume produksi pada 2027. Langkah ini diambil untuk menekan dampak kelebihan pasokan (oversupply) di pasar global serta memicu pemulihan harga mineral pendukung.
“Penurunan volume produksi pada 2027 bisa jauh lebih ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya guna membuka peluang pemulihan harga seiring kondisi oversupply di pasar global,” tegas Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM, Cecep Mochammad Yasin.
Tiga smelter besar yang mengonfirmasi rencana pengurangan produksi tersebut mencakup Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., PT Trimegah Bangun Persada Tbk ($NCKL), dan Tsingshan Holding Group. Smelter milik Zhejiang Huayou Cobalt di Sulawesi Tenggara diproyeksikan memangkas kapasitas produksi hingga 50 persen pada 2027, sementara detail efisiensi untuk NCKL dan Tsingshan masih dalam pematangan teknis oleh pihak manajemen.
Selain perkembangan sektor tambang, sejumlah aksi korporasi emiten pasar modal turut mewarnai pergerakan bursa domestik. Pemegang saham PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk ($ULTJ) dalam RUPSLB menyetujui pembagian tambahan dividen senilai Rp100 per saham dari saldo laba ditahan, yang mencerminkan tingkat imbal hasil dividen (dividend yield) sekitar 4,9 persen. PT Total Bangun Persada Tbk ($TOTL) juga mengumumkan pembagian dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp40 per saham dengan cum dividen pada 16 November 2026 dan pembayaran pada 4 Desember 2026. Langkah serupa diambil PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk ($PORT) yang membagikan dividen interim Rp35,6 per saham dengan jadwal cum dividen 16 November 2026 dan pembayaran 3 Desember 2026.
Dari sektor otomotif, PT Astra Otoparts Tbk ($AUTO) mengonfirmasi target pertumbuhan bisnis di atas rata-rata industri otomotif nasional pada 2027 melalui strategi diversifikasi produk, perluasan basis pelanggan, serta pengembangan jaringan bisnis aftermarket.
“Pihaknya menargetkan pertumbuhan bisnis di atas rata-rata industri otomotif nasional pada 2027, didukung oleh strategi diversifikasi portofolio produk, perluasan basis pelanggan, dan pengembangan jaringan regional serta ekspansi bisnis aftermarket,” ujar Direktur Utama Astra Otoparts, Yusak Kristian Solaeman.
Direktur AUTO Tujuh Martogi Siahaan menambahkan bahwa perusahaan berencana membuka sekitar 30 gerai ritel modern baru pada 2027 untuk memperkuat jaringan ritel seperti Shop & Drive, Shop & Bike, Motoquick, dan Astra Otoservice, setelah mengoperasikan total 673 gerai hingga kuartal ketiga 2026.
Sementara itu, PT IMC Pelita Logistik Tbk ($PSSI) siap mendistribusikan sekitar 172 juta saham treasuri dengan rasio 30 saham lama mendapat 1 saham treasuri pada 27 November 2026. PT NFC Indonesia Tbk ($NFCX) mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) hingga 49 juta saham atau 7,35 persen dari modal disetor dengan alokasi dana Rp87 miliar pada periode 9 November 2026 hingga 8 Februari 2027 di estimasi harga Rp1.775 per saham. Sebaliknya, kesepakatan akuisisi 86 persen saham PT Puri Sentul Permai Tbk ($KDTN) oleh perusahaan Hong Kong, Ruby Mining Hongkong Ltd., dari para pemegang saham penjual dipastikan resmi dibatalkan.
Dari ranah kebijakan ekonomi makro, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan pembaruan peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Pemerintah mendefinisikan ulang posisi badan tersebut sebagai perantara tunggal ekspor, bukan sebagai eksportir tunggal.
“Pemerintah akan mendefinisikan ulang peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai perantara tunggal ekspor, bukan sebagai eksportir tunggal,” jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.
Melalui perubahan ini, pelaksanaan transaksi komersial tetap berada di tangan masing-masing eksportir, sedangkan PT Danantara Sumberdaya Indonesia fokus mengawasi serta memberikan persetujuan dokumen kontrak. Ketentuan baru ini akan dimasukkan dalam revisi Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2026 yang ditargetkan selesai pertengahan November 2026. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengonfirmasi bahwa eksportir komoditas kelapa sawit, batu bara, dan ferroalloy tetap diizinkan melakukan ekspor secara langsung setelah 31 Desember 2026. Adapun Direktur Utama PT Danantara Sumberdaya Indonesia Luke Mahony menyampaikan pemungutan biaya verifikasi ekspor akan dimulai saat portal pemantauan beroperasi penuh pada 1 Januari 2027.
Dalam kesempatan terpisah, Airlangga Hartarto juga memaparkan kebijakan baru terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Pemerintah resmi menaikkan batas kewajiban konversi DHE SDA ke valuta rupiah menjadi 100 persen dari sebelumnya 50 persen. Pemerintah turut menambah daftar negara tujuan ekspor yang memperoleh relaksasi penempatan DHE SDA, melingkupi Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa, melengkapi daftar negara sebelumnya seperti Amerika Serikat, Kanada, China, Hong Kong, dan Australia. Selain itu, Bank Indonesia telah memasukkan PT Bank OCBC NISP Tbk ($NISP) ke dalam daftar bank penerima DHE SDA, sehingga kini terdapat 16 bank yang resmi ditunjuk untuk mengelola dana devisa hasil ekspor tersebut.


