Dewablog.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual signifikan dengan ditutup melemah 3,8 persen atau terkoreksi 192,5 poin pada perdagangan Selasa, 3 November 2026. Penurunan ini mencatatkan rekor koreksi harian terdalam sejak 16 Oktober 2026, ketika pasar merespons isu rencana penurunan status pasar saham Indonesia oleh MSCI menjadi standalone market. Aksi jual investor asing turut mewarnai perdagangan dengan mencatatkan net foreign outflow mencapai Rp575 miliar.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pelemahan indeks utama ini utamanya didorong oleh penurunan harga saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan saham HSC dari perhitungan indeks per 2 November 2026. Lima kontributor terbesar yang menekan laju IHSG meliputi BBRI dengan kontribusi negatif 26,58 poin, BBCA sebesar 13,04 poin, AMMN 11,86 poin, BMRI 10,9 poin, serta TLKM sebesar 9,11 poin. Secara kumulatif sejak awal pekan ini, IHSG telah mencatatkan penurunan sebesar tiga persen.

Koreksi pasar terjadi di tengah fluktuasi harga komoditas global, di mana harga minyak Brent sempat tertekan hebat sebelum kembali menguat 0,92 persen ke level US$105,7 per barel pada penutupan perdagangan. Sebelumnya, harga minyak sempat merosot tajam akibat harapan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang kemudian meredup pasca-serangan militer di Pulau Qeshm. Kondisi makroekonomi domestik juga mencatatkan tantangan tersendiri dengan nilai tukar rupiah yang masih berada di kisaran 18.148 per dolar AS, mendekati level terendah sepanjang masa.

Sementara itu, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak Mei 2020 di angka 7,81 persen pada perdagangan Senin, sebelum akhirnya mereda ke level 7,72 persen pada penutupan Selasa. Meskipun harga minyak dunia yang melandai biasanya dianggap sebagai sentimen positif bagi fiskal Indonesia, pasar tampaknya lebih merespons faktor teknis dan sentimen ketidakpastian global yang masih membayangi pelaku pasar domestik.

Di tengah dinamika pasar yang volatil, sejumlah emiten tetap mengumumkan aksi korporasi strategis. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) berencana melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement dengan menerbitkan hingga 10,8 miliar saham baru. Dana yang dihimpun akan digunakan untuk memperkuat modal kerja dan pengembangan usaha, yang rencananya akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 8 Desember 2026.

Sektor energi dan konsumer juga mencatatkan aktivitas dividen interim. Indo Tambangraya Megah (ITMG) dijadwalkan membagikan dividen dengan estimasi yield mencapai 5,1 persen, sementara Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) memberikan indikasi dividend yield sekitar 5,5 persen. Di sektor peternakan, Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) melaporkan laba bersih Rp3,2 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, meski margin segmen pakan ternak mengalami penyusutan akibat kenaikan harga bahan baku yang belum sepenuhnya diteruskan kepada konsumen.

Terkait prospek energi terbarukan, Direktur Arkora Hydro, Terry Tando, mengungkapkan optimisme perusahaan terhadap pertumbuhan produksi listrik di masa mendatang. Target produksi tahun 2027 diproyeksikan mencapai 231,8 GWh, meningkat 49,4 persen dibandingkan tahun 2026, seiring dengan operasionalisasi proyek pembangkit listrik tenaga air baru di Tomoni.

“Peluang pengembangan pembangkit listrik energi terbarukan masih sangat terbuka, mengingat realisasi pemanfaatan potensi tenaga surya nasional baru sekitar 1,4 GWp dari potensi 3.294 GWp, sedangkan pemanfaatan tenaga air baru mencapai sekitar 7,9 persen dari total potensi 95 GW,” ujar Terry Tando.

Dalam perkembangan kebijakan publik, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa pemerintah berencana kembali melakukan penyesuaian aturan penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam. Pemerintah akan melakukan sosialisasi dan mempertimbangkan masukan dari kalangan pengusaha sebelum aturan tersebut diimplementasikan, dengan penegasan bahwa kebijakan ini terpisah dari program sentralisasi ekspor oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Jika terealisasi, ini akan menjadi kali keempat perubahan aturan devisa hasil ekspor dilakukan dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Kinerja bursa hari ini juga diwarnai dengan pergerakan saham-saham top gainer seperti MAPI dan MIKA yang masih mampu mencatatkan apresiasi harga di tengah tren pasar yang merah. Sebaliknya, saham-saham seperti ANTM, CTRA, EMTK, dan DSNG masuk dalam jajaran top loser setelah mengalami koreksi cukup dalam. Investor diharapkan tetap mencermati fundamental perusahaan di tengah kondisi pasar yang sedang melakukan penyesuaian harga dan mencari keseimbangan baru.

Meskipun terjadi pelemahan indeks yang cukup dalam, para analis pasar melihat adanya potensi bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi pada saham-saham yang memiliki fundamental solid dan konsisten dalam membagikan dividen. Fokus pada perusahaan dengan arus kas yang kuat dinilai menjadi strategi yang relevan untuk menghadapi ketidakpastian pasar yang dipicu oleh faktor eksternal maupun internal dalam jangka pendek.