Dewablog.com — Pemerintah Kuwait mengecam keras aksi serangan milisi Houthi yang menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, yang mengakibatkan sedikitnya 12 orang meninggal dunia dan ratusan orang lainnya menderita luka-luka. Kuwait secara tegas menilai tindakan ofensif yang diarahkan langsung ke fasilitas penerbangan sipil tersebut sebagai perbuatan yang sangat keji dan pengecut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kementerian Luar Negeri Kuwait menyampaikan pernyataan sikap resmi menyusul laporan eskalasi serangan yang menghantam kawasan bandara di ibu kota Arab Saudi tersebut. Berdasarkan keterangan otoritas diplomatik Kuwait, penyerangan terhadap objek vital nonmiliter merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip dasar hukum internasional serta hukum humaniter internasional yang mewajibkan perlindungan bagi warga dan infrastruktur sipil.

“Berulangnya tindakan permusuhan sistematis yang menyasar fasilitas sipil dan infrastruktur vital ini merupakan eskalasi yang berbahaya,” tegas pernyataan Kementerian Luar Negeri Kuwait.

Menanggapi ancaman keamanan yang kian meruncing, Kuwait menegaskan kembali komitmen dan solidaritas penuh kepada Kerajaan Arab Saudi. Otoritas Kuwait menyatakan dukungan mutlak bagi seluruh langkah pertahanan dan tindakan tegas yang diputuskan oleh pemerintah Riyadh guna memelihara keamanan nasional, menjaga stabilitas kawasan, serta melindungi seluruh warga negara maupun ekspatriat yang bermukim di wilayah Arab Saudi.

Selain menyatakan dukungan bilateral, Kuwait mendesak komunitas global agar tidak tinggal diam menyaksikan agresi yang membahayakan keselamatan transportasi publik. Kuwait memandang penting adanya intervensi dan konsensus global untuk meredam rangkaian aksi permusuhan yang berulang kali menyasar simpul transportasi vital di kawasan Timur Tengah.

Kementerian Luar Negeri Kuwait menyerukan kepada masyarakat internasional untuk segera memikul tanggung jawab secara kolektif dengan mengambil sikap tegas terhadap serangan-serangan tersebut. Langkah terpadu ini dinilai mendesak demi menjamin perlindungan menyeluruh bagi fasilitas publik dan penerbangan sipil internasional, mencegah insiden serupa terulang di masa depan, serta memastikan para pelaku penyerangan tidak lolos dari jerat hukuman.

Insiden penyerangan di Bandara Internasional King Khalid tersebut dilaporkan memicu kepanikan luas dan dampak fisik yang parah, dengan catatan korban mencapai 12 orang tewas serta 309 korban luka. Eskalasi serangan bersenjata terhadap fasilitas transportasi massal ini kian memicu kekhawatiran mendalam di kalangan negara-negara Teluk terkait keselamatan rute perjalanan udara sipil dan stabilitas geopolitik regional.