Dewablog.com — Gelandang Persib Bandung, Marc Klok dan Thom Haye, menyuarakan keprihatinan mereka terkait keterbatasan fasilitas tim setelah bermain imbang melawan Dewa United dalam ajang Super League 2026/2027. Keduanya secara terbuka menyoroti kurangnya dukungan sarana pemulihan kebugaran pemain di tengah jadwal kompetisi yang sangat padat dan menguras energi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Musim ini, Persib memang dihadapkan pada jadwal pertandingan yang luar biasa ketat karena berkompetisi di empat ajang sekaligus. Selain Super League, tim berjuluk Maung Bandung itu juga harus berlaga di AFC Champions League Two 2026/2027, ASEAN Club Championship 2026/2027, serta Indonesia League Cup 2026/2027, menuntut kondisi fisik prima secara berkelanjutan dari para pemainnya.

Situasi tersebut menjadi perhatian serius karena tuntutan untuk tampil di berbagai turnamen tidak hanya menguras energi fisik para pemain, tetapi juga memerlukan dukungan infrastruktur yang memadai. Fasilitas pemulihan yang modern, nutrisi yang tepat, dan pengaturan perjalanan yang efisien menjadi krusial untuk menjaga performa optimal dan kesehatan skuad.

Klok, yang juga menjabat sebagai kapten tim, mengungkapkan bahwa secara jujur, fasilitas tim saat ini sangat kurang, demikian pula dengan aspek nutrisi dan pengaturan perjalanan yang dinilai belum optimal. Ia menekankan pentingnya adaptasi para pemain terhadap kondisi yang ada, meskipun tantangannya besar.

“Kami harus bertahan dengan mentalitas untuk mengatasi ini dan menantangnya, karena kalau kami bicara ke badan kami, oh kami capek, kami lelah, pasti kami lelah,” ujar Marc Klok, kapten Persib Bandung, menyoroti pentingnya kekuatan mental dalam menghadapi jadwal padat.

Senada dengan Klok, Thom Haye juga menyampaikan pandangan serupa mengenai tantangan yang dihadapi tim. Dengan jarak antarpertandingan yang sangat berdekatan, waktu yang tersedia bagi para pemain untuk memulihkan kondisi fisik mereka menjadi sangat terbatas, membuat fasilitas pemulihan menjadi lebih vital.

Haye secara spesifik menyoroti bahwa tidak ada perubahan signifikan pada fasilitas yang tersedia bagi tim, meskipun tuntutan kompetisi semakin tinggi. Bahkan, ia menyebut bahwa Persib tidak bermain di stadion kandang mereka sendiri, dan terus-menerus melakukan perjalanan untuk melakoni laga tandang maupun laga usiran, menambah beban fisik.

“Jika saya ingin pergi untuk latihan pemulihan, bagi saya lebih baik pergi ke tempat pribadi [rumah Marc Klok] daripada pergi ke klub, karena di klub saya tidak bisa menjalani pemulihan,” kata Thom Haye, menjelaskan minimnya fasilitas pemulihan yang memadai di klub.

Menurut Haye, tampil di sejumlah kompetisi memang tidak menjadi masalah, namun penambahan jadwal pertandingan ini seharusnya diimbangi dengan peningkatan signifikan pada fasilitas pemulihan. Ia mencontohkan, jika ada penambahan ajang seperti Shopee Cup, maka seharusnya fasilitas juga ditingkatkan agar sejalan dengan tuntutan.

Kondisi saat ini, imbuh Haye, justru membuat tim tidak bisa lagi memikirkan strategi untuk menurunkan tim terbaik dalam setiap pertandingan. Sebaliknya, fokus utama justru bergeser pada siapa saja pemain yang berada dalam kondisi paling sehat dan siap bermain, mengingat risiko cedera dan kelelahan yang tinggi di tengah jadwal yang padat.

Ia mengakui bahwa tim secara keseluruhan telah tampil sangat baik di lapangan, namun kondisi fasilitas yang ada membuatnya merasa bahwa mempertahankan performa tersebut hampir tidak mungkin. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan para pemain adalah berupaya keras untuk tetap sehat sebagai sebuah grup, demi bisa terus bersaing di berbagai ajang.

Kritikan dari dua pemain kunci ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi klub sepak bola profesional di Indonesia dalam mengelola tim yang berlaga di berbagai ajang. Keseimbangan antara ambisi kompetitif dan ketersediaan infrastruktur pendukung menjadi kunci vital bagi keberlanjutan performa dan kesehatan pemain dalam jangka panjang.

Peningkatan fasilitas, nutrisi, dan logistik perjalanan bukan hanya investasi untuk performa di lapangan, tetapi juga bentuk perlindungan terhadap aset terpenting klub, yaitu para pemain. Isu ini diharapkan dapat menjadi pendorong bagi manajemen Persib untuk segera melakukan perbaikan demi menghadapi tuntutan kompetisi yang semakin ketat di masa mendatang dan menjaga kesejahteraan pemain.