Dewablog.com — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini menghadapi tuduhan serius terkait dugaan keterlibatannya dalam operasi pembajakan pesawat maskapai Flydubai yang terjadi pada Rabu (30/9/2026). Media pemerintah Iran, Press TV, melaporkan bahwa insiden yang melibatkan penerbangan dari Dubai menuju Tel Aviv tersebut diduga merupakan taktik false flag yang sengaja dirancang untuk memicu eskalasi militer lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Tudingan tersebut merujuk pada keterangan dari sumber regional yang mengklaim bahwa Netanyahu berusaha memanfaatkan situasi ini guna menarik Amerika Serikat ke dalam konflik terbuka melawan Iran. Operasi ini diduga mencakup skenario di mana pilot maskapai tersebut ditikam oleh kopilotnya di dalam kokpit saat pesawat tengah mengangkut 174 penumpang, yang mayoritas merupakan warga negara Israel.
Dalam laporannya, media Iran menyebut bahwa Netanyahu sempat melakukan kunjungan rahasia ke Uni Emirat Arab pada Minggu (27/9/2026). Kunjungan tersebut diklaim melibatkan sejumlah petinggi militer dan intelijen Israel yang berdiskusi dengan perwakilan dari beberapa negara Arab terkait rencana operasi yang dapat dikambinghitamkan kepada pihak Iran. Perdana Menteri Israel itu sendiri sebelumnya telah memberikan pernyataan publik terkait insiden tersebut.
“Salah satu pilot dalam penerbangan itu tampaknya berupaya menjatuhkan pesawat dengan semua orang di dalamnya,” ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Langkah ini diduga tidak terlepas dari tekanan politik domestik yang tengah dihadapi oleh Netanyahu menjelang pemilihan umum parlemen yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober mendatang. Dengan menciptakan situasi darurat keamanan yang melibatkan Iran, sang Perdana Menteri dipandang berupaya mengamankan dukungan koalisi politiknya yang saat ini sedang berada dalam posisi yang tidak menentu.
Kendati narasi mengenai skenario false flag ini telah menyebar luas, laporan yang disampaikan oleh Press TV hingga kini belum menyertakan bukti konkret maupun identitas sumber yang secara jelas dapat memverifikasi klaim tersebut. Pihak Israel, pemerintah Uni Emirat Arab, maupun otoritas Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi atau bantahan langsung terkait spekulasi yang berkembang di media tersebut.
Kondisi ini menambah ketegangan diplomatik di kawasan yang memang sudah rentan terhadap berbagai friksi geopolitik. Pengamat mencatat bahwa ketidakjelasan informasi mengenai insiden penikaman di kokpit Flydubai ini menjadi celah bagi pihak-pihak tertentu untuk membangun narasi politik yang menguntungkan kepentingan strategis mereka di tengah persaingan pengaruh antara kekuatan-kekuatan besar di Timur Tengah.
Hingga saat ini, penyelidikan lebih lanjut mengenai motif sebenarnya di balik insiden di dalam pesawat Flydubai tersebut masih terus dinanti oleh komunitas internasional. Publik masih menunggu hasil investigasi resmi dari otoritas penerbangan terkait, yang diharapkan mampu memberikan kejelasan atas peristiwa yang melibatkan nyawa ratusan penumpang tersebut tanpa adanya bias politik dari pihak mana pun.


