Dewablog.com — Sekretaris Pers Gedung Putih yang baru, Katie Zacharia, menuai sorotan publik dan kontroversi setelah melontarkan pernyataan bernada merendahkan terkait fasilitas toilet di China. Pernyataan tersebut disampaikan Zacharia dalam sebuah wawancara dengan influencer sayap kanan, Jack Posobiec, yang disiarkan pada Kamis (15/10) waktu setempat. Zacharia, yang baru menjabat selama kurang dari satu pekan, menceritakan kembali persepsinya mengenai kondisi China pada tahun 2016 silam saat ia pernah tinggal di sana.
Dalam perbincangannya, Zacharia mempertanyakan narasi yang berkembang saat itu mengenai potensi China sebagai negara yang akan melampaui Amerika Serikat. Ia merujuk pada masa ketika banyak pihak meyakini bahwa kejayaan Amerika mulai meredup, sementara China diprediksi akan menjadi kekuatan dominan dunia. Zacharia mengaku skeptis dengan masa depan China saat itu karena pengalamannya langsung di lapangan terkait ketersediaan sanitasi yang ia nilai tidak memadai.
“Saya ingat betul saat itu, karena baru saja kembali dari China, saya berpikir, ‘Bagaimana mungkin China menjadi negara berikutnya yang akan berjaya?’ Mereka bahkan tidak memiliki toilet yang layak,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih, Katie Zacharia.
Komentar ini muncul di tengah upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menjaga stabilitas hubungan diplomatik dengan Beijing. Belum lama ini, Trump membanggakan hubungan yang dinilai sangat baik dengan Presiden China Xi Jinping. Dalam pertemuan puncak di Washington DC pada September lalu, kedua pemimpin negara tersebut telah membahas berbagai isu krusial mulai dari pengembangan kecerdasan buatan, perdagangan global, hingga penyelesaian konflik di Iran. Keduanya bahkan telah mengonfirmasi rencana pertemuan tatap muka lanjutan yang dijadwalkan berlangsung pada tahun ini.
Hingga saat ini, pihak otoritas China belum memberikan tanggapan resmi atau komentar terkait pernyataan yang dilontarkan oleh juru bicara Gedung Putih tersebut. Selain isu toilet, Zacharia juga tengah menghadapi tekanan publik terkait kualifikasi profesionalnya. Sejak menggelar konferensi pers pertamanya pada Selasa (13/10), ia menjadi subjek pemeriksaan publik mengenai statusnya sebagai pengacara. Ia diketahui tidak dapat memberikan jawaban pasti saat ditanya mengenai lokasi tempat ia menempuh ujian profesi advokat, yang merupakan prasyarat mutlak untuk praktik hukum di Amerika Serikat.
Zacharia mengklaim dirinya sebagai seorang pengacara berdasarkan gelar hukum yang diperoleh dari Pepperdine University serta pengalamannya bekerja di sebuah firma hukum di Beijing. Namun, ia mengakui bahwa dirinya tidak pernah mengikuti ujian advokat setelah kembali ke Amerika Serikat dari China karena merasa kewalahan dengan urusan kepindahan pribadinya. Ia berpendapat bahwa selama memiliki gelar Sarjana Hukum, ia merasa berhak melabeli dirinya sebagai praktisi hukum, meskipun argumen tersebut memicu perdebatan di kalangan pakar etika.
Situasi ini semakin memanas setelah organisasi etika politik, Campaign for Accountability, secara terbuka mendesak California Bar Association untuk melakukan penyelidikan formal terhadap Zacharia. Organisasi tersebut menegaskan bahwa di negara bagian California, tindakan seseorang yang melabeli diri sebagai pengacara tanpa memiliki lisensi resmi yang valid bukan sekadar bualan, melainkan dapat dikategorikan sebagai tindak pidana. Hingga kini, belum ada pernyataan lanjutan dari pihak Gedung Putih mengenai tuntutan penyelidikan tersebut maupun dampak dari komentar mengenai fasilitas China terhadap posisi Zacharia ke depannya.


