Dewablog.com — Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman secara resmi mengklaim tanggung jawab atas serangkaian serangan udara yang menargetkan berbagai bandara di Arab Saudi. Aksi ini menandai salah satu gangguan paling signifikan terhadap operasional penerbangan sipil di kerajaan tersebut dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menjadi serangan paling mematikan yang terjadi di wilayah Saudi dalam lebih dari satu dekade. Ketegangan ini meletus di tengah pertempuran sengit antara kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung oleh koalisi pimpinan Arab Saudi.
Situasi keamanan di kawasan tersebut semakin memburuk pasca-runtuhnya gencatan senjata yang sebelumnya ditengahi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak tahun 2022. Hingga saat ini, setidaknya lima bandara strategis di Arab Saudi telah menjadi sasaran serangan. Bandara Internasional King Khalid di Riyadh tercatat mengalami serangan berulang sebanyak empat kali dalam kurun waktu lima hari, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa baik dari kalangan pilot, warga negara Saudi, hingga jemaah umrah yang sedang bersiap melakukan perjalanan.
Selain Riyadh, sasaran serangan juga menyasar Bandara Internasional King Fahd di Dammam, Bandara Internasional Abha, Bandara Internasional King Abdullah bin Abdulaziz di Jazan, serta Bandara Najran. Intensitas serangan ini memaksa otoritas Arab Saudi untuk memperpanjang penangguhan operasional di sejumlah bandara vital, sementara maskapai penerbangan internasional mulai membatalkan jadwal penerbangan ke Riyadh. Negara-negara seperti Inggris, Prancis, dan Jerman bahkan telah mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga negara mereka untuk menghindari ibu kota Saudi.
Eskalasi serangan ini terjadi saat Arab Saudi sedang mempromosikan diri sebagai destinasi utama bagi investasi global dan pariwisata, termasuk persiapan sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA 2034. Meskipun demikian, pihak kerajaan menyatakan bahwa agenda internasional akan tetap berjalan sesuai rencana untuk meyakinkan dunia bahwa wilayah mereka tetap aman. Di sisi lain, media yang dikelola Houthi melaporkan bahwa serangan tersebut merupakan balasan atas aksi militer Saudi terhadap wilayah Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi, termasuk serangan udara ke Bandara Sanaa.
“Houthi telah melakukan eskalasi secara besar-besaran, mereka telah melampaui batas itu, mereka memiliki kerangka kerja dan perhitungan sendiri, dan berhenti hanya pada serangan terhadap bandara sipil bukanlah bagian dari perhitungan tersebut,” ujar Hisham al-Omeisy, analis konflik dan penasihat di European Institute of Peace.
Menurut Hisham al-Omeisy, kelompok Houthi menerapkan pendekatan maksimalis dalam strategi mereka untuk menekan Arab Saudi agar memberikan konsesi lebih besar. Kelompok ini memandang infrastruktur energi dan transportasi udara Saudi sebagai simbol integrasi internasional yang rentan. Selain serangan ke bandara, para analis memperkirakan potensi ancaman Houthi dapat meluas hingga menyasar jaringan pipa minyak dan fasilitas energi strategis lainnya di wilayah tersebut.
Konflik ini juga berakar pada dinamika di Selat Bab al-Mandeb, jalur pelayaran vital yang kini menjadi titik panas baru setelah Selat Hormuz mengalami gangguan akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Posisi strategis wilayah selatan Yaman, terutama di sekitar kota Mocha dan Dhubab, menjadi medan pertempuran sengit karena perannya dalam mengendalikan lalu lintas maritim global. Pemerintah Yaman yang didukung Saudi menyatakan bahwa serangan mereka terhadap fasilitas di Yaman dilakukan untuk mencegah masuknya pasokan militer ilegal.
Kondisi di lapangan saat ini terus dipantau oleh berbagai pihak internasional seiring dengan semakin terbukanya risiko bagi operator kapal tanker minyak dan penerbangan sipil. Hingga kini, belum ada tanda-tanda penurunan ketegangan di antara kedua belah pihak yang berseteru. Fokus pemerintah Saudi saat ini adalah menjaga stabilitas operasional di tengah upaya mereka untuk tetap mempertahankan kepercayaan investor dan komunitas internasional terhadap keamanan nasional kerajaan di tengah ancaman serangan yang terus berlanjut.


