Dewablog.com — Persija Jakarta secara resmi dijatuhi sanksi berat berupa denda total sebesar Rp90 juta serta larangan bagi suporternya untuk menghadiri laga tandang selama setengah musim kompetisi. Keputusan ini diambil menyusul insiden kericuhan yang melibatkan oknum suporter saat laga melawan Persita Tangerang di Banten International Stadium (BIS) pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Berdasarkan sidang Komite Disiplin PSSI, sanksi ini merupakan akumulasi dari beberapa jenis pelanggaran yang terjadi sepanjang pertandingan berlangsung, mulai dari jeda antarbabak hingga laga berakhir.
Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, mengungkapkan bahwa hasil sidang tersebut telah mempertimbangkan berbagai laporan dari pengawas pertandingan dan bukti video di lapangan. Laga yang mempertemukan Persita dan Persija memang menjadi sorotan utama dalam lanjutan Super League 2026-2027 pekan lalu. Selain karena hasil akhir yang memberikan kekalahan perdana bagi tim Macan Kemayoran, kericuhan yang pecah di tribun utara dan selatan stadion menjadi poin utama evaluasi tegas dari pihak penyelenggara liga dan federasi.
“Persija menerima denda uang sebesar Rp30 juta akibat kericuhan antarsuporter yang melibatkan oknum The Jakmania, ditambah larangan hadir bagi suporter pada laga tandang selama setengah musim,” ujar Direktur Utama I.League, Ferry Paulus.
Total denda finansial yang harus dibayarkan manajemen Persija membengkak menjadi Rp90 juta setelah adanya temuan pelanggaran serius lainnya di area tribun. Komite Disiplin menemukan bukti kuat adanya pelemparan flare serta penyalaan petasan yang dilakukan oleh oknum pendukung selama jalannya pertandingan. Untuk pelanggaran terkait penggunaan bahan peledak dan kembang api ini, Persija dijatuhi hukuman denda tambahan sebesar Rp60 juta, yang harus segera dilunasi sesuai tenggat waktu yang ditetapkan oleh otoritas liga.
Dampak dari sanksi larangan kehadiran suporter tandang ini akan langsung dirasakan Persija pada pertandingan away mereka berikutnya. Hukuman ini dipastikan sudah berlaku ketika Persija bertandang ke markas Dewa United pada 31 Oktober 2026 mendatang. Dengan demikian, tim asuhan pelatih Persija dipastikan tidak akan mendapatkan dukungan moril langsung dari The Jakmania di tribun stadion selama sisa putaran kompetisi musim ini, yang tentu menjadi tantangan berat bagi performa tim di lapangan.
Tidak hanya Persija, panitia pelaksana (panpel) Persita Tangerang juga tidak luput dari tindakan disipliner. Selaku pihak yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pertandingan di Banten International Stadium, panpel Persita dibebankan denda sebesar Rp40 juta. Sanksi ini diberikan karena panitia dinilai lalai dalam menjalankan tanggung jawabnya untuk memastikan ketertiban, keamanan, dan keselamatan seluruh pihak di dalam stadion, sehingga kericuhan antarsuporter tidak dapat dibendung oleh petugas keamanan di lokasi.
Jalannya pertandingan itu sendiri sebenarnya berlangsung sengit dengan skor akhir 3-2 untuk kemenangan Persita Tangerang. Kekalahan ini menjadi pukulan ganda bagi Persija karena selain kehilangan poin penting untuk pertama kalinya musim ini, mereka juga harus menghadapi kerugian materiil dan moril akibat ulah suporternya sendiri. Ketegangan yang terjadi sejak jeda babak pertama di tribun penonton terus meningkat hingga memicu bentrokan fisik yang memaksa petugas keamanan bekerja ekstra keras di dalam area stadion yang cukup megah tersebut.
Pihak manajemen I.League berharap sanksi tegas ini dapat memberikan efek jera sekaligus menjadi peringatan bagi klub-klub lain dalam menjaga perilaku pendukung mereka di stadion mana pun. Kejadian di Banten International Stadium dianggap sebagai kemunduran dalam upaya transformasi sepak bola Indonesia yang tengah mengedepankan aspek keamanan penonton. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan di stadion berkapasitas besar akan terus dilakukan guna meminimalisir celah masuknya benda-benda terlarang seperti flare dan petasan ke dalam area tribun.
Ke depannya, Persija Jakarta diharapkan mampu melakukan langkah-langkah preventif dan edukasi yang lebih masif kepada para pendukungnya agar insiden serupa tidak terulang kembali. Larangan tandang selama setengah musim ini menjadi ujian berat bagi loyalitas dan kedisiplinan suporter dalam mendukung tim kesayangan mereka secara positif. Fokus manajemen kini terbagi antara menjaga performa pemain di klasemen Super League dan memastikan seluruh sanksi administratif serta disipliner dipenuhi dengan tepat waktu sesuai regulasi yang berlaku di PSSI.


