Dewablog.com — Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik diplomat senior Arrmanatha Nasir sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta. Pelantikan ini dilakukan dalam agenda perombakan Kabinet Merah Putih, di mana pria yang akrab disapa Tata tersebut menggantikan posisi Sugiono yang kini ditugaskan memimpin Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Prosesi pelantikan berlangsung dengan khidmat di hadapan para pejabat negara dan menteri kabinet lainnya. Dalam upacara tersebut, Presiden Prabowo memandu langsung pembacaan sumpah jabatan yang diikuti dengan tegas oleh Arrmanatha Nasir sebagai komitmen pengabdian kepada bangsa.
“Bahwa saya, akan setia kepada UUD Negara RI Tahun 1945, serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya demi dharma bakti saya kepada bangsa dan negara. Bahwa saya, dalam menjalankan tugas jabatan akan menjunjung tinggi etika jabatan bekerja dengan sebaik-baiknya dengan penuh rasa tanggung jawab,” ucap Presiden Prabowo Subianto memandu sumpah jabatan yang diikuti oleh Arrmanatha Nasir.
Sebelum dipercaya memegang tongkat kepemimpinan di Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha telah mengemban tugas sebagai Wakil Menteri Luar Negeri sejak Oktober 2024. Penunjukan dirinya sebagai menteri luar negeri yang baru menandai babak baru dalam diplomasi luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinan pemerintahan saat ini.
Lahir di Bangkok, Thailand, pada tanggal 30 Desember 1971, Arrmanatha merupakan seorang diplomat karier murni yang tumbuh dan berkembang di lingkungan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Pengalamannya yang luas di kancah internasional menjadikannya salah satu sosok yang sangat dihormati di kalangan diplomat dalam dan luar negeri.
Perjalanan akademis Arrmanatha menjadi fondasi kuat bagi karier diplomasinya yang gemilang selama puluhan tahun. Ia menyelesaikan studi sarjana dalam bidang Ilmu Ekonomi di University of Buckingham, Inggris, pada kurun waktu tahun 1991 hingga 1993.
Setelah meraih gelar sarjana, ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di University of Leicester, Inggris, dan berhasil meraih gelar Master of Business Administration pada periode 1993 hingga 1994. Untuk memperdalam pemahamannya tentang dinamika global, ia juga menempuh pendidikan Magister Hubungan Internasional di Universitas Indonesia pada tahun 1997 hingga 1998.
Sebelum mendedikasikan dirinya sepenuhnya pada dunia diplomasi publik, Arrmanatha sempat merambah dunia profesional di sektor perbankan nasional. Ia tercatat pernah bekerja sebagai Financial Institutions Officer di Bank Dagang Negara Indonesia pada tahun 1996 sampai 1997.
Langkah awalnya di Kementerian Luar Negeri dimulai dengan penugasan penting sebagai Sekretaris Kedua dan Negosiator Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization pada Perutusan Tetap Republik Indonesia di Jenewa, Swiss, dari tahun 2001 hingga 2004. Penugasan awal ini mengasah kemampuannya dalam negosiasi perdagangan internasional yang kompleks.
Sekembalinya dari Jenewa, Arrmanatha dipercaya menjabat sebagai Wakil Direktur Bidang Pertanian dan Komoditas pada Direktorat Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri dari tahun 2005 hingga 2008. Peran ini menuntutnya untuk terus mengawal kepentingan sektor agraria dan perdagangan komoditas Indonesia di forum global.
Karier diplomasinya semakin menanjak ketika ia ditugaskan sebagai Konselor pada Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, pada periode 2008 hingga 2012. Di sana, ia fokus menangani isu-isu krusial terkait ekonomi dan pembangunan di Komite Kedua Majelis Umum PBB serta Dewan Ekonomi dan Sosial PBB.
Berkat kepiawaiannya, pada tahun 2010 hingga 2011, ia dipercaya menjadi penasihat bidang ekonomi dan negara-negara kurang berkembang untuk Presiden Sidang ke-65 Majelis Umum PBB. Sekembalinya ke tanah air, Arrmanatha menjabat sebagai Juru Bicara Kementerian Luar Negeri dari tahun 2014 hingga 2019, menjadikannya wajah diplomasi Indonesia yang aktif memberikan keterangan resmi kepada publik.
Kiprahnya di luar negeri berlanjut ketika ia dilantik menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Prancis, Andorra, Monako, serta Delegasi Tetap RI untuk UNESCO pada periode 2019 hingga 2021. Penugasan di Eropa ini memperkuat hubungan bilateral Indonesia dengan negara-negara mitra strategis tersebut.
Setelah menyelesaikan masa tugasnya di Paris, ia kembali dikirim ke New York sebagai Wakil Tetap RI untuk PBB dan organisasi internasional lainnya pada kurun waktu 2021 hingga 2024. Selama masa penugasan ini, ia juga memegang posisi strategis sebagai Wakil Presiden Dewan Ekonomi dan Sosial PBB pada tahun 2023.
Selain itu, ia juga tercatat sebagai Wakil Tetap RI pertama untuk International Seabed Authority di Jamaika pada tahun 2023, serta menjabat sebagai Wakil Ketua Komite PBB untuk Hak-Hak Rakyat Palestina pada tahun 2024. Portofolio kepemimpinannya yang sangat kaya di berbagai organisasi internasional ini menegaskan kapasitasnya dalam memimpin diplomasi multilateral Indonesia ke depan.
Pada Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto menunjuknya sebagai Wakil Menteri Luar Negeri untuk mendampingi Sugiono dalam mengelola kebijakan luar negeri Indonesia. Transisi kepemimpinan dari Sugiono kepada Arrmanatha Nasir sebagai Menteri Luar Negeri yang baru diharapkan dapat terus menjaga kesinambungan dan memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah diplomasi global.


