Dewablog.com — Serangan rudal yang dilancarkan oleh kelompok Houthi menghantam kompleks istana kepresidenan Al-Maashiq di kota pelabuhan Aden, Yaman, pada Kamis (15/10) waktu setempat. Rentetan gempuran mematikan tersebut mengakibatkan sedikitnya lima orang tewas dan sedikitnya enam belas orang lainnya mengalami luka-luka, menandai eskalasi terbaru dalam konflik bersenjata berkepanjangan di negara Semenanjung Arab tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menteri Kesehatan Yaman, Qasim Buhaibeh, mengonfirmasi data jatuhnya korban jiwa dan luka-luka tersebut. Pihaknya merinci bahwa para korban yang terdampak gempuran proyektil mencakup para personel militer serta aparat kepolisian yang sedang bertugas menjaga pos pengamanan kompleks kepresidenan, di samping sejumlah pegawai dan staf sipil yang bekerja di area kantor pemerintahan.

Ledakan dahsyat dilaporkan memicu kepanikan luar biasa di sekitar kawasan pesisir Aden. Warga setempat menuturkan bahwa mereka mendengar suara dentuman keras secara beruntun ketika rudal-rudal melesat dan menghujam daratan, disusul dengan kemunculan kepulan asap hitam pekat yang membubung tinggi ke angkasa dari balik dinding kompleks kepresidenan beberapa saat setelah serangan berlangsung.

Tiga sumber dari aparat kepolisian setempat memastikan bahwa sasaran tembak rudal-rudal balistik milik milisi Houthi memang diarahkan secara spesifik ke area Istana Al-Maashiq. Insiden ini tercatat sebagai serangan terarah pertama yang dilancarkan oleh kubu Houthi terhadap instalasi simbolik kepresidenan sejak eskalasi pertempuran kembali berkobar sengit pada Juli lalu.

Wilayah Aden sendiri berstatus sebagai ibu kota administratif sementara bagi pemerintahan Yaman yang diakui secara sah oleh komunitas internasional. Status tersebut diberlakukan setelah ibu kota resmi Yaman, Sanaa, jatuh dan dikuasai sepenuhnya oleh faksi bersenjata Houthi dalam pergolakan kekuasaan beberapa tahun silam.

Saat serangan rudal menghantam kompleks istana, Perdana Menteri Yaman Shaya al-Zindani tengah berada di dalam kawasan kantor kepresidenan yang menjadi pusat aktivitas pemerintahannya. Seorang pejabat kementerian Yaman yang enggan diungkap identitasnya membeberkan bahwa sang perdana menteri berhasil selamat tanpa menderita cedera sedikit pun.

“Serangan rudal ini merupakan tindakan pengecut sekaligus kelanjutan dari pola kriminal kelompok Houthi yang kerap menargetkan fasilitas negara serta membahayakan keselamatan warga sipil,” tegas Perdana Menteri Yaman Shaya al-Zindani.

Pejabat kementerian tersebut memaparkan rincian teknis gempuran, di mana kelompok Houthi melepaskan tembakan yang menghantam pos pusat komando pasukan pemerintah Yaman dengan tiga proyektil rudal. Selain itu, dua rudal lainnya dilaporkan mendarat menghantam area penempatan kontingen pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang berada di kawasan terpadu istana kepresidenan.

Di sisi lain, media resmi yang terafiliasi dengan Houthi menyiarkan klaim pertanggungjawaban atas operasi militer tersebut. Faksi bersenjata yang didukung oleh Iran itu menyatakan bahwa mereka secara khusus membidik markas besar operasi gabungan militer yang dikomandoi para perwira tinggi militer Arab Saudi di Istana Al-Maashiq, termasuk menyasar fasilitas pergudangan amunisi dan persenjataan yang tersimpan di lokasi.

Aksi ofensif Houthi pada waktu yang bersamaan tidak hanya terpusat di Aden, melainkan meluas ke sektor strategis lainnya. Komando angkatan bersenjata Yaman melaporkan bahwa milisi Houthi secara serentak juga menembakkan rentetan rudal balistik ke arah Marib, kawasan strategis di Yaman tengah yang menjadi pusat vital eksplorasi minyak dan energi.

Konfrontasi berdarah di Yaman sempat memperlihatkan tren penurunan intensitas pertempuran setelah para pihak menyepakati moratorium gencatan senjata komprehensif pada tahun 2022. Kendati demikian, stabilitas rapuh tersebut kembali runtuh pada Juli lalu, memicu pertempuran frontal terbuka antara unit militer pemerintah dan petempur pemberontak di sejumlah garis depan.

Untuk merespons ancaman tersebut, pemerintah Yaman menggelar operasi militer gabungan dengan tujuan utama merebut kembali wilayah-wilayah strategis yang masih diduduki kelompok Houthi. Pasukan koalisi Arab Saudi turut memberikan dukungan penuh melalui bantuan serangan udara terkoordinasi terhadap posisi benteng pertahanan Houthi.

Sebagai bentuk pembalasan atas operasi gabungan tersebut, kelompok Houthi secara intensif memperluas jangkauan serangannya ke wilayah teritorial Arab Saudi. Kelompok bersenjata itu berulang kali meluncurkan serangan jarak jauh yang mengandalkan drone peledak serta tembakan proyektil rudal dengan sasaran terminal bandara sipil dan kawasan infrastruktur kilang minyak Saudi.