Dewablog.com — Center of Economic and Law Studies (CELIOS) baru saja merilis hasil survei terkait penilaian kinerja para menteri di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Berdasarkan data yang dihimpun selama periode 15 September hingga 9 Oktober 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai tercatat sebagai menteri dengan kinerja yang dinilai paling buruk oleh para responden.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Survei ini melibatkan 1.142 responden yang terdiri dari kalangan ahli di bidangnya serta masyarakat umum. Untuk kategori masyarakat, tim peneliti menerapkan metode non-probability sampling melalui platform iklan media sosial yang kemudian disempurnakan dengan pembobotan data. Sementara itu, untuk responden dari kalangan pakar, survei dilakukan menggunakan pendekatan snowball sampling guna memastikan keterlibatan individu dengan keahlian serta pengalaman yang relevan dengan isu-isu pemerintahan.

Hasil analisis pemeringkatan tersebut menunjukkan bahwa Bahlil Lahadalia memperoleh skor sebesar -159, disusul oleh Natalius Pigai yang berada tipis di bawahnya dengan skor -158. Angka negatif tersebut merefleksikan sentimen penilaian yang kurang memuaskan dari para responden terkait efektivitas kerja serta kebijakan yang telah diambil oleh kedua menteri tersebut selama menjabat.

“Iya mungkin mereka punya agenda tersendiri dan belum tentu mereka kalau dikasih jabatan seperti yang dipegang oleh Pak Bahlil mereka bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh Pak Bahlil. Antara teori yang mereka belajar di sekolah belum tentu bisa di-apply pada kondisi real di lapangan,” ujar Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Melchias Mekeng.

Menanggapi hasil survei tersebut, Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Melchias Mekeng, memberikan pembelaan terhadap kinerja ketua umumnya, Bahlil Lahadalia. Mekeng meragukan objektivitas lembaga survei tersebut dan menduga adanya agenda tertentu di balik penilaian buruk yang ditujukan kepada Menteri ESDM tersebut. Ia berargumen bahwa mengelola kementerian di lapangan jauh lebih kompleks dibandingkan dengan teori yang dipelajari di bangku akademis.

Lebih lanjut, Mekeng menyoroti sejumlah keberhasilan yang menurutnya telah dicapai oleh Bahlil selama memimpin Kementerian ESDM. Ia mengapresiasi langkah Bahlil dalam menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi guna melindungi daya beli masyarakat di tengah tantangan ekonomi global. Selain itu, ia juga memuji upaya Bahlil dalam memastikan ketersediaan pasokan energi nasional, termasuk mencari solusi logistik saat terjadi gangguan suplai akibat konflik di Selat Hormuz.

Selain masalah pasokan energi, Mekeng turut menekankan kebijakan Bahlil dalam menata sektor pertambangan mineral dan batubara. Menurutnya, langkah tegas Bahlil dalam menindak pelaku usaha yang tidak mematuhi aturan serta kewajiban untuk melibatkan pengusaha lokal merupakan bukti nyata kinerja yang positif. Penilaian ini berbanding terbalik dengan hasil survei CELIOS, yang menempatkan Bahlil di posisi terbawah dalam daftar kinerja kabinet saat ini.

Perbedaan pandangan antara hasil survei lembaga independen dan pembelaan dari pihak partai politik ini mencerminkan dinamika evaluasi kinerja kabinet di tengah masyarakat. Hingga saat ini, pihak CELIOS belum memberikan tanggapan lebih lanjut mengenai kritik yang dilontarkan oleh petinggi Partai Golkar terkait metodologi maupun hasil temuan survei mereka tersebut.