Dewablog.com — Presiden Urusan Keagamaan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Syekh Abdulrahman Al-Sudais, secara tegas mengecam tindakan kelompok Houthi yang berupaya menargetkan Makkah dan Madinah. Kecaman ini disampaikan menyusul serangkaian ancaman keamanan yang menyasar dua kota suci umat Islam tersebut, yang dipandang sebagai pelanggaran berat terhadap kesucian tempat ibadah sekaligus norma hukum internasional.
Syekh Sudais menekankan bahwa serangan yang dilakukan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman tersebut merupakan bentuk agresi terang-terangan yang mencederai syariat Islam. Menurutnya, tindakan tersebut tidak hanya melanggar nilai-nilai kemanusiaan universal, tetapi juga menunjukkan niat jahat kelompok tersebut dalam mengabaikan posisi sakral Dua Masjid Suci bagi seluruh umat Muslim di dunia.
“Tindakan menargetkan tempat-tempat suci, warga sipil, dan berbagai fasilitas merupakan kejahatan yang dilarang oleh hukum Islam, dikecam oleh seluruh umat manusia, serta melanggar norma-norma internasional,” tegas Syekh Abdulrahman Al-Sudais.
Dalam pernyataannya yang dilansir oleh Saudi Press Agency, Syekh Sudais menegaskan bahwa rangkaian serangan yang dilakukan berulang kali itu tidak akan mampu menggoyahkan stabilitas maupun keamanan Kerajaan Arab Saudi. Ia menyatakan keyakinan penuh bahwa pemerintah serta rakyat Saudi akan terus berkomitmen menjaga keselamatan Dua Masjid Suci serta seluruh pengunjung yang datang untuk beribadah.
Pemerintah Arab Saudi sendiri terus melakukan upaya maksimal dalam menjaga situs-situs suci Islam dari ancaman eksternal. Syekh Sudais menambahkan bahwa keamanan di wilayah Makkah dan Madinah adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar oleh pihak mana pun. Ia memuji kesigapan otoritas keamanan yang terus memantau situasi di lapangan guna memastikan stabilitas tetap terjaga.
Ketegangan di wilayah tersebut sempat memuncak ketika Otoritas pertahanan sipil Arab Saudi merilis peringatan dini mengenai potensi bahaya di empat provinsi di bagian barat, termasuk Makkah, pada Sabtu (24/10/2026). Peringatan yang juga mencakup Jeddah, Taif, dan pusat industri minyak di Yanbu tersebut menginstruksikan warga untuk segera mencari tempat aman. Meski peringatan tersebut dicabut tidak lama setelah dirilis, langkah ini menunjukkan kesiagaan pemerintah dalam merespons ancaman.
Sebelum insiden tersebut, koalisi pimpinan Arab Saudi pada Rabu (21/10/2026) berhasil mencegat dan menghancurkan setidaknya lima unit pesawat nirawak atau drone yang terdeteksi mengarah ke Wilayah Timur Saudi dan Madinah. Kejadian ini menambah daftar panjang upaya infiltrasi udara yang berhasil digagalkan oleh sistem pertahanan udara Saudi. Pihak berwenang terus memperketat pengawasan di seluruh perbatasan guna mencegah eskalasi konflik yang dapat mengganggu kedamaian di kota-kota suci.
Upaya perlindungan ini menjadi prioritas utama bagi otoritas Saudi seiring dengan komitmen mereka untuk memberikan perlindungan penuh kepada jemaah dan masyarakat. Syekh Sudais mengakhiri pernyataannya dengan menegaskan bahwa pendekatan kriminal yang dilakukan oleh kelompok Houthi hanya akan mempertegas isolasi mereka di mata dunia internasional, sementara integritas serta keamanan wilayah Saudi tetap menjadi prioritas utama yang tidak dapat ditawar.


