Dewablog.com — Insiden yang melibatkan pesawat FlyDubai dengan nomor penerbangan FZ1073 terus menjadi sorotan dunia penerbangan internasional. Pemerintah Israel sempat menarasikan kejadian ini sebagai aksi terorisme yang dilakukan oleh pilot asal Oman, namun sejumlah keanehan teknis yang terungkap memicu pertanyaan besar dari para pakar aviasi dunia. Analisis berbasis sains, fisika, dan teknik penerbangan menunjukkan adanya informasi yang saling bertentangan terkait kronologi dan perilaku pesawat selama insiden berlangsung.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Data dari aplikasi pemantau penerbangan Flightradar24 mencatat peristiwa krusial pada pukul 05.22.07 hingga 05.22.36 waktu UTC. Dalam durasi singkat hanya 29 detik, pesawat tersebut tercatat kehilangan ketinggian secara drastis dari 30.875 kaki menjadi 16.750 kaki. Para ahli menilai penurunan vertikal sebesar 14.125 kaki dalam waktu kurang dari setengah menit tersebut merupakan anomali luar biasa yang menuntut penjelasan lebih mendalam di luar narasi konflik di dalam kokpit.

Selain penurunan tajam, sistem komunikasi pesawat juga menunjukkan sinyal yang membingungkan. Pesawat sempat mengirimkan kode 7700 yang merupakan sinyal darurat umum, sebelum kemudian berubah menjadi kode 7500 yang mengindikasikan adanya gangguan melawan hukum atau pembajakan. Menjelang pendaratan darurat di Tabuk, Arab Saudi, sinyal tersebut kembali berubah menjadi kode 7700. Perubahan kode yang berulang ini memberikan beban informasi bagi petugas pengatur lalu lintas udara atau Air Traffic Controllers (ATC) di darat, namun tetap menyisakan misteri mengenai apa yang sebenarnya terjadi di ruang kemudi.

Keanehan lain yang menjadi perdebatan adalah kemampuan pesawat untuk kembali naik setelah sempat anjlok ke ketinggian rendah, serta pola terbang yang tidak stabil sebelum akhirnya mendarat. Pemerintah Israel sempat mengklaim bahwa seorang penumpang bernama Yaniv Hayoun berhasil mengendalikan pesawat berbekal pengalamannya menonton serial dokumenter kecelakaan pesawat. Klaim ini langsung ditanggapi skeptis oleh banyak ahli penerbangan.

“Seorang penumpang tanpa pelatihan penerbangan formal tidak mungkin memiliki pengetahuan teknis yang memadai untuk mengendalikan pesawat dalam kondisi darurat yang ekstrem seperti itu,” ungkap salah seorang pakar penerbangan yang meragukan klaim tersebut.

Laporan lain menyebutkan bahwa kendali pesawat akhirnya diambil alih oleh seorang pilot FlyDubai yang saat itu sedang tidak bertugas atau off-duty, yang kemudian membantu proses pendaratan di Tabuk. Selain aspek kendali, kerusakan pada bagian ekor pesawat, tepatnya pada sirip vertikal yang disebut rudder, juga menarik perhatian media penerbangan The Aviationist. Kerusakan ini dinilai sangat krusial karena mengganggu kemampuan pesawat untuk bermanuver dan berbelok, meskipun pesawat masih memiliki bantuan sirip di bagian sayap.

Para ahli di forum Jetcareers turut menyoroti kecepatan pesawat yang justru meningkat saat melakukan penurunan tajam. Data menunjukkan kecepatan pesawat melonjak dari 411 knot menjadi 600 knot saat menukik. Secara aerodinamika, kondisi ini menimbulkan pertanyaan apakah perilaku tersebut masih berada dalam batasan operasional yang wajar untuk pesawat jenis Boeing 737 Max 8. Komunitas penerbangan global kini mendesak agar data parameter penerbangan yang lebih komprehensif segera dibuka ke publik.

Hingga saat ini, pertanyaan terbesar dari mayoritas insinyur dan pengamat penerbangan adalah bagaimana pesawat tersebut mampu mendarat dengan selamat meski mengalami kerusakan struktural pada bagian ekor dan penurunan yang kasar. Para pakar berpendapat bahwa pesawat modern memang dirancang dengan sistem kontrol berlapis untuk keamanan, namun kesimpulan pasti mengenai bagaimana FZ1073 tetap terkendali hanya bisa terjawab melalui investigasi resmi yang transparan.

Publik serta komunitas aviasi internasional saat ini menantikan rilis resmi mengenai posisi kontrol penerbangan, data stabiliser, kondisi mesin, serta rekaman suara dari kokpit. Keterbukaan data tersebut dianggap krusial untuk mengungkap kebenaran di balik serangkaian kejanggalan yang menyelimuti insiden FZ1073. Investigasi mendalam diharapkan mampu menjawab keraguan para ilmuwan mengenai kaitan antara narasi keamanan yang beredar dengan fakta teknis yang terekam selama penerbangan berlangsung.