Dewablog.com — Eskalasi militer antara militer Arab Saudi dan kelompok Houthi dari Yaman kembali meningkat drastis setelah pasukan koalisi pimpinan Saudi melancarkan puluhan gempuran serangan udara ke wilayah Sanaa dan kota Mocha. Langkah balasan berskala besar tersebut dieksekusi setelah sistem pertahanan udara Kerajaan Arab Saudi berhasil mencegat dua rudal yang ditembakkan oleh militer Houthi menuju kawasan Taif dan Yanbu di wilayah barat Arab Saudi.
Keberhasilan pencegatan dua rudal jelajah tersebut diumumkan secara resmi oleh pihak koalisi pimpinan Arab Saudi. Sebelum insiden pencegatan terjadi, Badan Pertahanan Sipil Riyadh telah menerbitkan peringatan potensi bahaya bagi masyarakat di empat wilayah strategis bagian barat Arab Saudi, yakni kawasan Taif, Yanbu, Kota Suci Makkah, hingga kota pelabuhan Jeddah guna mengantisipasi dampak serangan Houthi.
Sebagai bentuk respons langsung terhadap ancaman rudal tersebut, jet-jet tempur koalisi militer pimpinan Saudi melancarkan serangan udara balasan mendadak ke markas dan pusat kekuatan kelompok Houthi di Yaman. Wilayah ibu kota Sanaa yang menjadi pusat aktivitas utama Houthi digempur secara bertubi-tubi, sementara wilayah kota Mocha di pesisir Yaman juga dihantam sedikitnya 20 kali serangan udara dalam kurun waktu berdekatan.
Saluran media resmi yang dikelola oleh kelompok Houthi, Al-Masirah, membenarkan terjadinya rentetan gelombang serangan udara yang menyasar sejumlah titik di wilayah Sanaa. Media tersebut mengabarkan bahwa gempuran udara tersebut mengenai sebuah bangunan rumah tinggal warga, yang mengakibatkan sedikitnya tiga orang tewas di tempat serta melukai beberapa warga sipil lainnya yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Tidak hanya menyasar area pemukiman, serangan terpisah yang dilancarkan oleh jet tempur koalisi Saudi juga dilaporkan menghantam sebuah fasilitas pabrik semen di wilayah Sanaa. Penyiar berita Al-Masirah mengonfirmasi bahwa ledakan dahsyat di area fasilitas pabrik tersebut menyebabkan sejumlah warga gugur serta menimbulkan korban luka-luka dalam jumlah yang berjatuhan akibat puing-puing bangunan.
Keterlibatan Arab Saudi dalam memimpin koalisi militer internasional di Yaman telah berlangsung sejak pertama kali melakukan intervensi pada tahun 2015 silam. Konflik bersenjata yang berkepanjangan selama kurun waktu bertahun-tahun ini telah menghancurkan berbagai infrastruktur penting di Yaman serta menciptakan salah satu krisis kemanusiaan paling parah dan paling memprihatinkan di tingkat global.
Dinamika peperangan di wilayah Yaman sebenarnya sempat mengalami penurunan tensi secara bertahap sejak pemberlakuan gencatan senjata pada tahun 2022. Namun demikian, situasi keamanan kembali memburuk dan pertempuran terbuka berkobar kembali sejak bulan Juli lalu, seiring dengan meluasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mengguncang stabilitas kawasan serta memicu gelombang serangan balasan baru antara kedua belah pihak.


