Dewablog.com — Perseteruan warganet antara Indonesia dan Malaysia di media sosial kembali memanas pasca gelaran pertandingan FIFA ASEAN Cup 2026. Kali ini, ketegangan dipicu oleh sebuah unggahan kontroversial dari akun Threads @nurulsakila_hajan yang menampilkan gambar celana dalam berwarna merah pada bagian atas dan putih pada bagian bawah. Kombinasi warna tersebut dinilai menyerupai bendera kebangsaan Indonesia, yang kemudian memancing gelombang kecaman keras dari masyarakat di Tanah Air.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Unggahan tersebut tidak hanya memperlihatkan visual celana dalam yang tampak berlubang dan robek, tetapi juga disertai dengan keterangan teks yang bernada ejekan. Pemilik akun menuliskan kalimat “BENDA MUDAH” di bagian atas gambar dan “KOYAK” di bagian bawahnya. Dalam bahasa Melayu, istilah “koyak” merujuk pada kondisi sobek, namun dalam dinamika media sosial, kata tersebut kerap digunakan untuk merendahkan pihak yang dianggap mudah tersinggung atau emosional.

Sentimen negatif warganet Indonesia semakin meluap karena unggahan tersebut dianggap telah melampaui batas sindiran antarsuporter sepak bola dan sudah menyentuh ranah penghinaan terhadap lambang negara. Banyak warganet yang menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk pelecehan terhadap simbol yang sangat dihormati oleh rakyat Indonesia. Unggahan ini pun dengan cepat tersebar luas hingga ke berbagai platform media sosial lain seperti X dan TikTok, yang semakin memperkeruh suasana di dunia maya.

“Jgn pernah sekali2 menghina lambang negara kami. Kemerdekaan indonesia diperoleh dgn pengorbanan nyawa, limbahan darah dan air mata, bukan dr pemberian,” tegas akun @inamura.679.

Situasi sempat bertambah panas setelah muncul narasi yang menyebutkan bahwa pemilik akun tersebut berprofesi sebagai seorang guru taman kanak-kanak di Malaysia. Informasi yang belum terverifikasi kebenarannya ini memicu perdebatan mengenai etika seorang pendidik dalam menggunakan media sosial. Publik mendesak agar identitas pengunggah segera dipastikan guna mempertanggungjawabkan tindakannya, mengingat dampak yang ditimbulkan telah menyita perhatian publik lintas negara.

Seiring dengan meningkatnya tekanan dari warganet, akun @nurulsakila_hajan terpantau sudah tidak dapat diakses atau tidak lagi ditemukan di platform Threads. Tak lama berselang, muncul sebuah akun dengan nama @nurulsakilaabhajan yang memberikan klarifikasi bahwa akun sebelumnya telah diretas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Pemilik akun tersebut mengeklaim bahwa segala aktivitas yang dilakukan melalui akun @nurulsakila_hajan pasca peretasan terjadi di luar sepengetahuannya.

Namun, penjelasan tersebut justru menuai reaksi skeptis dari sebagian besar warganet. Banyak pengguna media sosial menuding bahwa klarifikasi tersebut hanyalah upaya untuk melimpahkan tanggung jawab setelah menyadari besarnya kemarahan publik. Beberapa warganet bahkan melampirkan tangkapan layar yang menunjukkan riwayat pergantian nama pengguna sebagai bukti ketidakyakinan mereka atas klaim peretasan tersebut.

Fenomena ini menunjukkan betapa sensitifnya isu-isu yang berkaitan dengan simbol negara di ruang digital. Meski saling sindir antar suporter merupakan hal yang lumrah dalam dunia olahraga, keterlibatan simbol kebangsaan dalam perdebatan di media sosial terbukti mampu memicu reaksi publik yang jauh lebih luas dan emosional. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait apakah kasus ini akan berlanjut ke ranah hukum atau diselesaikan melalui jalur diplomasi antarnegara.