Dewablog.com — Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance secara terang-terangan mengakui kegagalan Washington dalam menangani perang di Iran. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan Vance saat berpartisipasi dalam sebuah forum yang diselenggarakan oleh CBS News, di mana ia mengamini bahwa AS telah melakukan banyak kesalahan mendasar dalam strategi dan pelaksanaannya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pengakuan Vance muncul ketika ia ditanyai langsung oleh seorang suami dari personel militer AS yang tewas dalam sebuah serangan di situs militer di Kuwait. Insiden tragis tersebut menjadi titik fokus diskusi, menyoroti kerentanan dan konsekuensi fatal dari pendekatan militer AS di kawasan tersebut.

“Meskipun drone Iran adalah senjata yang menewaskan istri saya, ada banyak kesalahan dan kegagalan mendasar yang menyebabkan hal itu terjadi,” ujar Joey Amor, suami dari Sersan Mayor Nicole Amor.

Menanggapi pernyataan emosional tersebut, Vance mengakui adanya masalah komunikasi dan informasi, menyebut bahwa “terkadang informasi tidak sampai kepada saya.” Ia menambahkan, pemerintah AS berjanji akan menanggapi “setiap kegagalan” yang terjadi dengan sangat serius, mengindikasikan adanya evaluasi mendalam terhadap insiden tersebut.

Vance juga secara spesifik menyoroti kelemahan dalam pendekatan militer AS, khususnya terkait penempatan pasukan di wilayah Timur Tengah. Menurutnya, lokasi penempatan prajurit di beberapa area telah mengungkap kerentanan signifikan yang seharusnya bisa diantisipasi dan ditangani dengan lebih baik.

Ia menjelaskan bahwa penempatan prajurit di lokasi tertentu merupakan “kesalahan besar yang seharusnya bisa kami tangani dengan lebih baik.” Vance menambahkan bahwa pemerintah telah menyadari dan sedang berupaya memperbaiki kesalahan-kesalahan strategis tersebut demi keamanan personel militer AS di masa depan.

Akibat ancaman yang terus meningkat dari drone-drone Iran, Amerika Serikat kini telah mengubah taktik militernya. Perubahan ini dilakukan untuk menghadapi strategi perang asimetris Iran yang memanfaatkan teknologi drone murah namun dalam jumlah masif, yang terbukti sangat efektif.

Konflik antara AS dan Iran, yang dilaporkan pecah pada Februari lalu, telah menyebabkan kematian sedikitnya 21 personel Washington, sebagaimana dikutip dari laporan Middle East Monitor. Jumlah korban ini menggarisbawahi intensitas dan risiko tinggi yang dihadapi pasukan AS di kawasan konflik tersebut.

Iran diketahui menerapkan taktik perang asimetris dengan meluncurkan drone-drone murah secara masif sebagai respons terhadap kekuatan militer konvensional AS yang superior. Strategi ini terbukti sangat efektif dalam membuat AS kewalahan dan menderita kerugian besar, karena AS harus menggunakan sistem pertahanan udara canggih nan mahal hanya untuk menangkis serangan drone yang relatif murah.

Kantor Anggaran Kongres AS (Congressional Budget Office/CBO) pada September lalu bahkan memperkirakan bahwa persediaan rudal pencegat Washington saat ini tinggal sepertiga dari persediaan semula. Kondisi ini menggarisbawahi tantangan serius yang dihadapi Pentagon dalam menghadapi ancaman drone yang berkembang pesat dan berkelanjutan dari Iran, sekaligus menekan anggaran pertahanan secara signifikan.