Dewablog.com — Wali Kota Saint-Denis di Prancis, Bally Bagayoko, menjadi sorotan publik internasional setelah aksinya terekam kamera saat berupaya melindungi sekelompok pelajar yang sedang berdemonstrasi di Paris pada Selasa (6/10). Dalam rekaman yang beredar luas di media sosial, pria tersebut tampak berada di garis depan untuk menghadang aparat kepolisian anti huru-hara yang tengah bersiap melakukan penindakan terhadap para pengunjuk rasa muda. Bagayoko terlihat berteriak meminta aparat untuk menghentikan tindakan agresif mereka di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan pinggiran Paris.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sebagai pejabat publik yang mewakili wilayah kelas pekerja, Bagayoko secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap aspirasi para pelajar. Ia menilai bahwa banyak dari peserta demonstrasi sebenarnya tidak menunjukkan perilaku agresif atau mengancam keselamatan petugas. Aksi perlindungan yang ia lakukan merupakan bentuk tanggung jawab moralnya sebagai seorang pemimpin daerah sekaligus orang tua terhadap anak-anak yang menyuarakan hak mereka di jalanan.

“Mereka telah memutuskan untuk menyerbu dan benar-benar mengejar para pelajar yang banyak di antaranya sama sekali tidak menunjukkan perilaku agresif terhadap petugas polisi,” ujar Bagayoko, Wali Kota Saint-Denis yang juga anggota partai sayap kiri radikal France Unbowed.

Situasi di lapangan pada hari itu berakhir ricuh setelah pihak kepolisian tetap melepaskan gas air mata ke arah massa, termasuk ke arah Wali Kota yang masih berada di lokasi. Ketegangan ini merupakan puncak dari gelombang protes pelajar yang telah berlangsung selama lebih dari dua pekan di kawasan pinggiran Paris yang terpinggirkan. Para pengunjuk rasa menuntut perbaikan sistem pendidikan, termasuk menyoroti masalah ruang kelas yang padat, fasilitas yang tidak higienis, serta minimnya jumlah tenaga pengajar.

Kondisi sosial di Saint-Denis sendiri memang cukup memprihatinkan dengan tingkat kemiskinan yang mencapai lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional Prancis. Bagayoko menegaskan bahwa protes ini bukan fenomena baru karena masalah ketimpangan kesempatan selalu muncul setiap awal tahun ajaran baru. Ia mendesak pemerintah pusat untuk lebih memprioritaskan investasi di bidang pendidikan serta menerapkan kebijakan pajak yang lebih progresif terhadap para miliarder guna mengatasi kesenjangan ekonomi yang terus melebar.

Demonstrasi pelajar ini terjadi dalam konteks politik yang panas, yakni enam bulan menjelang pemilihan umum untuk menggantikan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Hingga saat ini, lebih dari 6.000 orang telah ditangkap oleh pihak berwenang, sementara puluhan pelajar dilaporkan mengalami luka-luka. Kelompok hak asasi manusia dan serikat pekerja secara tegas mengecam penggunaan taktik kekerasan oleh polisi, seperti penggunaan tongkat pemukul, gas air mata, serta senjata peluru karet keras atau flashball terhadap anak di bawah umur.

Di sisi lain, otoritas pemerintah Prancis melaporkan bahwa ratusan anggota kepolisian juga mengalami cedera dalam rangkaian bentrokan tersebut. Selain itu, terdapat catatan mengenai sekolah-sekolah yang dibakar atau dijarah, serta warga sipil dan guru yang menjadi korban serangan di tengah kekacauan aksi massa. Pemerintah sempat memberikan sinyal bahwa ada keterlibatan politisi dari kelompok sayap kiri di balik gerakan ini, namun tuduhan tersebut langsung dibantah keras oleh Bagayoko yang menganggapnya sebagai penghinaan terhadap para pengunjuk rasa muda.

Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu, menyatakan bahwa pemerintah akan segera meninjau seluruh tuntutan para siswa dan menjanjikan usulan konkret pada akhir Oktober mendatang. Meski demikian, belum ada rincian lebih lanjut mengenai bentuk kebijakan yang akan diambil. Bagi Bagayoko, mendampingi para siswa dalam aksi protes adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar, mengingat mereka adalah generasi masa depan yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih besar dari pemerintah pusat dibandingkan kepentingan politik praktis.