Dewablog.com — Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, secara resmi menolak tawaran bantuan militer dari Israel yang bertujuan untuk membantu Riyadh dalam memerangi kelompok Houthi di Yaman. Penolakan tersebut tetap dipertahankan meski terdapat upaya dari Israel untuk mendapatkan persetujuan Arab Saudi melalui jalur mediasi Amerika Serikat. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya intensitas serangan kelompok Houthi yang menyasar target-target strategis di wilayah Arab Saudi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Laporan dari media Israel, Haaretz, mengungkapkan bahwa Mohammed bin Salman menunjukkan sikap tidak tertarik terhadap tawaran kolaborasi militer tersebut. Sang Putra Mahkota disebut memiliki kekhawatiran mendalam bahwa keterlibatan militer dengan pihak Israel dapat memicu reaksi negatif yang luas dari masyarakat Arab Saudi maupun dunia Arab secara keseluruhan. Kerjasama militer semacam itu dipandang sebagai langkah yang sangat sensitif dan berisiko bagi stabilitas domestik serta posisi geopolitik Arab Saudi.

Sumber diplomatik yang mengikuti perkembangan isu ini menyebutkan bahwa Israel sebenarnya berharap kolaborasi tersebut dapat menjadi pintu pembuka bagi hubungan bilateral yang lebih erat. Bagi Tel Aviv, keterlibatan militer bersama diharapkan mampu mempercepat proses normalisasi hubungan diplomatik dengan Riyadh di masa depan. Namun, Arab Saudi tetap konsisten menjaga jarak dan menegaskan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel hanya akan dipertimbangkan apabila persoalan Palestina telah terselesaikan secara adil.

Hingga saat ini, Arab Saudi dan Israel memang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi. Riyadh berulang kali menegaskan bahwa pembentukan negara Palestina yang berdaulat merupakan prasyarat utama sebelum pembicaraan normalisasi dapat dimulai. Kebijakan ini menjadi cerminan dari komitmen Arab Saudi terhadap konsensus regional mengenai penyelesaian konflik Palestina-Israel yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Situasi di Arab Saudi sendiri kian menegang akibat eskalasi serangan udara oleh kelompok Houthi. Insiden serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu lalu mengakibatkan 13 orang meninggal dunia dan lebih dari 300 orang mengalami luka-luka. Situasi kembali memanas ketika serangan susulan terjadi pada hari berikutnya, yang menyebabkan seorang warga negara Pakistan kehilangan nyawa dan melukai 11 orang lainnya di lokasi yang sama.

Serangkaian serangan terbaru ini menandai berakhirnya periode ketenangan yang sempat tercipta sejak berlakunya gencatan senjata yang dimediasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada April 2022. Peningkatan aktivitas militer kelompok Houthi ini kembali mengancam keamanan regional dan mengganggu operasional penerbangan sipil di Arab Saudi secara signifikan.

Konflik Yaman sendiri telah berlangsung panjang sejak September 2014, ketika kelompok Houthi berhasil merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi penting lainnya. Situasi kian memburuk pada Maret 2015 saat koalisi militer pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi bersenjata untuk mendukung pemerintahan Yaman yang sah dan diakui secara internasional. Upaya diplomatik terus dilakukan oleh berbagai pihak untuk meredam konflik, namun tantangan di lapangan tetap tinggi mengingat kompleksitas kepentingan politik dan militer yang terlibat dalam perang saudara tersebut.