Dewablog.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan signifikan sebesar 1% pada perdagangan hari ini. Tekanan terhadap indeks utama bursa domestik ini dipicu oleh sentimen negatif dari pasar keuangan global serta antisipasi pelaku pasar terhadap deretan agenda ekonomi penting yang akan berlangsung sepanjang pekan ini.
Koreksi ini tercermin dari pelemahan harga saham pada sejumlah emiten berkapitalisasi besar. Saham-saham yang membebani pergerakan indeks di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Di sisi lain, beberapa saham sempat memberikan dorongan terbatas, seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Bukit Uluwu Villa Tbk (BUVA), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), namun belum cukup kuat untuk menahan laju penurunan.
Pergerakan pasar saham, obligasi, hingga komoditas pada pekan ini diperkirakan akan sangat volatil karena adanya keputusan kebijakan moneter dari tujuh bank sentral dunia. Beberapa institusi yang dijadwalkan mengumumkan kebijakan suku bunga meliputi Federal Reserve Amerika Serikat, Bank of Canada, Reserve Bank of New Zealand, Bank of Thailand, European Central Bank (ECB), hingga Bank of Japan (BOJ). Selain itu, perkembangan situasi geopolitik global juga terus menjadi perhatian utama investor dalam menentukan alokasi aset mereka.
Salah satu agenda yang paling menyita perhatian adalah Sidang Pleno Kelima Komite Sentral Partai Komunis China yang berlangsung pada 26-29 Oktober 2026. Pertemuan ini sangat krusial bagi investor global karena akan menentukan arah kebijakan ekonomi, industri, dan teknologi China dalam beberapa tahun ke depan. Hasil dari sidang ini diprediksi akan berdampak langsung pada nilai tukar yuan, harga komoditas global, serta prospek kerja sama dagang dengan negara mitra, termasuk Indonesia.
Di Amerika Serikat, pasar tengah menanti data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 dan angka inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE). Pertumbuhan ekonomi AS yang diproyeksikan mencapai 3,2% secara tahunan menunjukkan ketahanan ekonomi, namun jika dibarengi dengan inflasi yang tinggi, ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama akan semakin kuat. Data inflasi PCE September menjadi sangat vital karena merupakan indikator acuan utama bagi The Fed dalam merumuskan arah kebijakan moneter ke depannya.
Sementara itu, data laba industri China periode Januari hingga September 2026 juga akan dirilis untuk memberikan gambaran mengenai kesehatan sektor riil di negara tersebut. Perlambatan pada sektor ini dikhawatirkan dapat menekan permintaan komoditas global. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan bank sentral global, ditambah dengan data ekonomi makro yang beragam, menciptakan atmosfer kehati-hatian di kalangan investor domestik. Langkah penyesuaian portofolio oleh investor asing dan lokal menjadi pemicu utama koreksi IHSG pada hari ini, di tengah upaya pasar untuk memitigasi risiko atas ketidakpastian kebijakan moneter global yang akan diumumkan dalam beberapa hari ke depan.
Bagi pasar domestik, kebijakan The Fed tetap menjadi faktor yang paling krusial karena berpengaruh langsung terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan arus modal asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN). Konsensus pasar memperkirakan suku bunga AS saat ini bertahan di kisaran 3,75%-4,00%, namun pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai prospek inflasi dan pasar tenaga kerja akan menjadi poin penentu bagi sentimen pasar global. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung memilih aksi ambil untung sementara waktu hingga ada kejelasan mengenai kebijakan moneter dari berbagai bank sentral utama dunia di akhir pekan ini.

