Dewablog.com — Mantan gelandang internasional Belgia, Radja Nainggolan, mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai perjalanan kariernya di kompetisi sepak bola Indonesia. Pemain keturunan Indonesia tersebut mengaku bahwa pada awalnya ia hanya memiliki keinginan untuk bergabung dengan dua klub besar, yakni Persija Jakarta atau Bali United, sebelum akhirnya justru berlabuh di Bhayangkara FC pada pertengahan musim Liga 1 2023/2024.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pernyataan jujur tersebut disampaikan oleh Nainggolan dalam sebuah wawancara mendalam dengan media asal Belgia, Nieuwsblad. Pemain yang kini berusia 38 tahun tersebut menceritakan kronologi bagaimana dirinya bisa terlibat kembali dalam dunia sepak bola profesional setelah sebelumnya sempat berpikir untuk gantung sepatu alias pensiun dari lapangan hijau usai membela klub kasta kedua Italia, SPAL.

Nainggolan menjelaskan bahwa keterlibatannya dengan sepak bola Indonesia dimulai ketika ia menerima undangan dari Ketua Umum PSSI, Erick Thohir. Saat itu, Erick yang juga mantan Presiden Inter Milan—klub yang pernah dibela Nainggolan—memintanya untuk menjadi duta resmi Piala Dunia U-17 2023 yang diselenggarakan di Indonesia.

“Saya sebenarnya sudah berencana untuk berhenti bermain sepak bola pada tahun 2023 setelah membela SPAL di Serie B Italia,” tutur Radja Nainggolan.

Selama menjalankan tugas sebagai duta Piala Dunia U-17, Nainggolan menghabiskan waktu kurang lebih dua minggu untuk berkeliling ke berbagai kota penyelenggara, mulai dari Jakarta, Bandung, Solo, hingga Surabaya. Dalam periode tersebut, ia mengaku sangat terkesan dengan keramahan masyarakat setempat serta atmosfer sosial yang hangat, yang membuatnya merasa nyaman berada di tanah leluhurnya.

Pengalaman positif tersebut rupanya memicu ketertarikan untuk kembali bermain secara profesional di tanah air. Nainggolan kemudian mendapatkan tawaran untuk merumput di kasta tertinggi kompetisi Indonesia. Namun, ia memiliki syarat khusus terkait lokasi klub yang akan ia bela karena mempertimbangkan kenyamanan dan fasilitas di kota-kota besar Indonesia yang menurutnya sangat menarik untuk ditinggali.

Meski ia secara terbuka menyatakan minatnya kepada Persija Jakarta atau Bali United, situasi di lapangan berkata lain. Klub milik Kepolisian Republik Indonesia, Bhayangkara FC, menjadi tim yang paling serius menunjukkan minat dan sangat membutuhkan jasanya untuk menyelamatkan tim dari ancaman degradasi pada saat itu. Hal ini menjadi tantangan baru bagi pemain yang pernah bersinar di AS Roma tersebut.

Salah satu faktor yang tidak bisa dipungkiri dalam keputusannya adalah tawaran nilai kontrak yang sangat fantastis untuk ukuran Liga Indonesia. Nainggolan secara blak-blakan menyebutkan bahwa penghasilan yang diterimanya di Bhayangkara FC jauh lebih tinggi dibandingkan saat ia bermain di Italia bersama SPAL. Nilai kontrak yang disepakati mencapai angka 400.000 euro atau setara dengan Rp8 miliar untuk durasi kontrak singkat selama enam bulan saja.

Nainggolan juga memberikan perbandingan mengenai biaya hidup di Indonesia yang menurutnya sangat terjangkau bagi pemain dengan profil sepertinya. Ia mencontohkan harga makanan lokal yang sangat murah dibandingkan dengan standar Eropa, yang menambah nilai tambah baginya selama tinggal dan berkarier singkat di Jakarta bersama skuad The Guardian.

“Untuk biaya hidup di sana, saya dibayar lebih dari sebelumnya di Italia. Anda bisa mendapatkan sepiring besar nasi goreng hanya dengan dua euro di sana,” jelas Radja Nainggolan.

Sayangnya, kehadiran pemain bintang kelas dunia tersebut tidak mampu menyelamatkan Bhayangkara FC dari jurang degradasi. Tim tersebut harus turun kasta ke Liga 2 setelah mengakhiri musim di papan bawah klasemen. Seiring dengan selesainya kontrak jangka pendek tersebut, Nainggolan pun memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan kembali melanjutkan karier di benua Eropa.

Setelah meninggalkan Indonesia, Radja Nainggolan melanjutkan karier profesionalnya di kasta kedua Liga Belgia dengan bergabung bersama Lokeren Temse. Perjalanan kariernya terus berlanjut di tanah kelahirannya, di mana pada musim ini ia tercatat membela klub kasta kedua Belgia lainnya, Patro Eisden, guna terus menjaga kondisi fisiknya di penghujung usia emas pesepak bola.