Dewablog.com — Aksi demonstrasi massa yang menuntut perbaikan kondisi ekonomi terkait kenaikan biaya hidup di Prancis pada Sabtu (17/10/2026) berakhir dengan gelombang kerusuhan besar di sejumlah kota. Salah satu dampak paling destruktif terjadi di Kota Limoges, di mana gedung balai kota setempat dibakar oleh kelompok pengunjuk rasa bertopeng hingga mengalami kerusakan struktural yang sangat parah.
Situasi di Limoges memuncak ketika sekelompok massa yang beringas nekat memecahkan jendela dan menerobos masuk ke dalam gedung pemerintahan tersebut setelah sebelumnya membakar sebuah mobil polisi di area luar. Api dengan cepat melahap bangunan bersejarah yang telah berdiri selama 143 tahun tersebut, menyebabkan atap gedung runtuh dan menghancurkan sebagian besar struktur bangunan bagian luar.
“Atapnya telah runtuh menimpa lantai-lantai di bawahnya, kecuali di sayap barat, dan dua pertiga bagian luar bangunan sudah lenyap,” ujar Maurice Barate, pejabat prefektur setempat.
Maurice Barate yang menjabat sebagai prefek untuk departemen Haute-Vienne mengategorikan peristiwa ini sebagai bencana besar bagi warisan sejarah kota. Ia secara tegas mengecam aksi pembakaran tersebut sebagai tindakan sengaja yang dilakukan oleh perusuh untuk merusak fasilitas publik yang vital bagi administrasi wilayah setempat.
Upaya pemadaman api dilakukan oleh petugas pemadam kebakaran pada Sabtu malam dan saat ini kondisi kebakaran telah dinyatakan berhasil dikendalikan oleh otoritas terkait. Meskipun api sudah padam, kerusakan yang ditimbulkan pada balai kota tersebut tetap menjadi perhatian serius bagi pemerintah setempat karena nilai historis bangunan yang hilang akibat tindakan anarkis tersebut.
Kerusuhan tidak hanya terbatas di Limoges, tetapi juga menyebar ke kota-kota besar lainnya di seluruh Prancis. Di Marseille, massa yang mengenakan pakaian serba hitam dilaporkan menerobos masuk ke balai kota dan mencoret-coret dinding bangunan dengan grafiti bernada anarkis. Sementara itu, di Lyon, pengunjuk rasa juga melakukan pembakaran terhadap kantor pariwisata kota sebagai bentuk kemarahan mereka.
Situasi di Paris pun tidak kalah mencekam, di mana sejumlah toko produk mewah dan ritel menjadi sasaran penjarahan oleh massa garis keras. Di dekat alun-alun Republique, kaca depan toko produk kecantikan hancur dijarah, dengan barang-barang dagangan seperti kosmetik dan telepon seluler dilemparkan ke arah kerumunan pengunjuk rasa yang berada di luar toko.
Kelompok pemuda juga dilaporkan membobol sebuah supermarket di lokasi yang sama untuk mengambil minuman beralkohol. Barang-barang tersebut kemudian digunakan sebagai proyektil untuk menyerang petugas kepolisian yang sedang berupaya menjaga keamanan di tengah gejolak massa yang semakin tidak terkendali di sepanjang jalan protokol.
Di Marseille, para pengunjuk rasa menyasar gerai barang mewah seperti Hermes serta berbagai toko perhiasan, pakaian, dan peralatan rumah tangga. Kerusakan serupa juga melanda kota Lille, di mana sebuah gerai Apple Store di pusat kota dilaporkan dibobol oleh massa, serta di kota Nice yang mencakup penjarahan toko pakaian olahraga dan diler sepeda motor.
Meskipun terdapat ratusan ribu warga Prancis yang melakukan unjuk rasa secara damai pada Sabtu tersebut, kehadiran kelompok massa garis keras telah mengubah esensi demonstrasi menjadi tindakan kekerasan. Pihak kepolisian masih terus melakukan pengawasan ketat dan pendataan atas berbagai kerusakan properti serta bangunan publik yang terjadi selama aksi berlangsung di seluruh wilayah Prancis.


