Dewablog.com — Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menembus ke bawah level psikologis 5.000 dinilai sebagai momentum berharga bagi para investor. Badan Pengelola Investasi Danayasa (Danantara) menyatakan kesiapannya untuk memanfaatkan situasi koreksi pasar modal tersebut dengan menyuntikkan modal dan memborong saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dinilai memiliki fundamental bisnis yang sangat kokoh.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

IHSG tercatat terparkir di level 4.996,6 saat pelemahan berlangsung di Bursa Efek Indonesia. Tekanan harga yang terjadi pada jajaran saham papan atas justru memperlebar ruang bagi investor jangka panjang untuk masuk pada tingkat harga yang relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan nilai intrinsik perusahaan.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa kondisi pasar saham saat ini membuat nilai valuasi sejumlah entitas bisnis menjadi jauh lebih rendah dari nilai sebenarnya. Menurutnya, perubahan harga yang terjadi tidak serta-merta mencerminkan penurunan daya saing maupun kinerja keuangan dari perusahaan-perusahaan nasional yang terdaftar di bursa.

“Kita kan melihat kembali valuasi perusahaan-perusahaan kita sangat baik, ya, sangat-sangat solid dan juga valuasinya juga boleh dibilang kan sekarang menjadi sangat murah,” ujar CEO Danantara Rosan Roeslani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.

Rosan yang juga menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menggarisbawahi bahwa Danantara memosisikan diri sebagai investor jangka panjang. Fokus utama strategi investasi tidak hanya terbatas pada dinamika pergerakan harga harian, melainkan pada ketahanan fundamental dan potensi imbal hasil yang berkesinambungan bagi portofolio investasi BUMN maupun pasar modal secara keseluruhan.

Sebagai ilustrasi, harga saham di sektor perbankan milik negara kini telah menyentuh tingkat valuasi yang sangat kompetitif. Berdasarkan perhitungan rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV), rata-rata saham perbankan telah berada di kisaran angka satu, yang mengindikasikan bahwa harga pasar saat ini sejajar atau bahkan lebih rendah dari nilai ekuitas perusahaan.

Kondisi kesehatan finansial sektor perbankan nasional yang tetap terjaga turut ditopang oleh tingkat pembagian dividen (dividend yield) yang tergolong tinggi. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk misalnya, mencatatkan estimasi yield dividen berkisar 16 persen, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berada pada kisaran 13 persen.

“Jadi ibarat beli tanpa melihat kenaikan harga saham saja yield-nya itu kurang lebih, untuk Mandiri misalnya 16 persen karena dari pembagian dividennya,” jelas Rosan.

Tingkat imbal hasil dari dividen tersebut menunjukkan bahwa potensi keuntungan investor dapat diperoleh secara pasti dari pembagian laba bersih perusahaan, terlepas dari ada atau tidaknya fluktuasi kenaikan harga saham dalam jangka pendek. Hal ini memperkuat argumentasi bahwa saham perbankan BUMN menyajikan daya tarik investasi yang sangat kuat bagi para pemegang saham berperspektif panjang.

Berdasarkan hasil analisis mendalam yang dilakukan oleh tim internal Danantara, penurunan IHSG hingga ke bawah 5.000 murni dipandang sebagai fenomena koreksi teknis dan valuasi yang menarik di pasar efek. Perusahaan-perusahaan BUMN yang disasar diyakini memiliki pondasi bisnis yang solid, kapabilitas penciptaan laba yang sehat, serta tata kelola perusahaan yang terus membaik dari waktu ke waktu.

Rencana aksi korporasi dan suntikan modal ke beberapa saham BUMN di bursa efek akan direalisasikan dalam waktu dekat setelah seluruh tahapan analisis fundamental selesai dilakukan secara akurat. Danantara memastikan penempatan dana akan difokuskan pada saham-saham yang secara obyektif memenuhi kriteria investasi sehat, berisiko terukur, serta mampu memberikan nilai tambah secara nasional.