Dewablog.com — Ribuan mahasiswa serta elemen masyarakat sipil menggelar aksi demonstrasi di Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya di Indonesia pada Selasa (20/10). Aksi unjuk rasa tersebut dilaksanakan bertepatan dengan momentum peringatan dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Para demonstran menyuarakan lima tuntutan utama kepada pemerintah pusat, dengan fokus utama mendesak penetapan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai status bencana nasional.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Di Jakarta, konsentrasi massa terpantau di kawasan Tugu Tani dan Patung Kuda. Selain menuntut penanganan karhutla, mahasiswa juga menyoroti berbagai isu krusial lainnya, mulai dari tata kelola ekonomi yang dianggap belum berpihak pada kesejahteraan publik, hingga perlunya perlindungan terhadap hak asasi manusia dan demokrasi. Massa aksi menilai ruang sipil semakin menyempit, terutama akibat pelibatan unsur militer dalam menangani persoalan-persoalan sipil yang seharusnya diselesaikan melalui pendekatan dialogis.

Aksi di Jakarta sempat diwarnai peristiwa di Bundaran Hotel Indonesia, di mana 11 aktivis Greenpeace membentangkan spanduk di atas Patung Selamat Datang pada pagi hari. Aksi tersebut sempat menyita perhatian pihak kepolisian hingga para aktivis dibawa ke Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan. Meski sempat tertahan selama beberapa jam karena dugaan pelanggaran UU Cagar Budaya, seluruh aktivis tersebut akhirnya dibebaskan oleh kepolisian setelah melalui proses pemeriksaan.

“Saat ini, enam dari 11 orang yang tadi beraksi belum diperbolehkan pulang tanpa dasar hukum yang jelas,” tegas Daniel Winatra dari Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD).

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Reynold E.P. Hutagalung, menyatakan pihaknya melakukan peninjauan terhadap rekaman CCTV dan keterangan personel di lapangan terkait aksi pemanjatan di monumen cagar budaya tersebut. Kepolisian memastikan proses hukum dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku untuk memverifikasi tindakan para aktivis di area yang dilindungi tersebut.

Sementara itu, di lokasi demonstrasi Tugu Tani, para mahasiswa menyampaikan kritik tajam terhadap efektivitas pemerintahan dalam dua tahun terakhir. Orator aksi menilai pemerintah telah gagal dalam mengatasi persoalan mendasar yang dirasakan rakyat, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok dan tingginya biaya hidup. Salah satu perwakilan mahasiswa, Nazhira dari BEM IPB, mengungkapkan bahwa beban ekonomi yang kian meningkat membuat daya beli masyarakat, khususnya mahasiswa, mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Gerakan serupa juga terjadi di luar Pulau Jawa, salah satunya di Kota Jayapura, Papua. Dalam pertemuan yang bertajuk Mimbar Rakyat Papua, para mahasiswa dan kelompok masyarakat adat mendesak pemerintah pusat untuk lebih serius menangani dampak karhutla di Merauke. Mereka menekankan bahwa kabut asap akibat kebakaran lahan telah memicu gangguan kesehatan serius, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang banyak diderita oleh kaum perempuan dan anak-anak di wilayah tersebut.

Aktivis mahasiswa asal Papua Selatan, Stenly Dambujai, menyatakan bahwa pemerintah daerah maupun pusat harus segera turun tangan memberikan penanganan yang lebih spesifik dan cepat. Mereka menilai bahwa kebijakan saat ini cenderung lebih memprioritaskan Proyek Strategis Nasional dibandingkan hak hidup masyarakat adat yang bergantung pada kelestarian hutan. Kelompok ini menuntut agar pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proyek-proyek pembangunan yang dianggap berpotensi merusak lingkungan dan merampas ruang hidup warga lokal di tanah Papua.

Selain masalah lingkungan, isu korupsi, kolusi, dan nepotisme juga menjadi poin utama yang disuarakan mahasiswa di berbagai titik aksi. Para pengunjuk rasa mendesak pemerintah untuk melakukan perbaikan layanan pendidikan dan kesehatan agar lebih merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Mereka berharap tuntutan yang disampaikan di momentum dua tahun pemerintahan ini dapat menjadi bahan evaluasi serius bagi pemangku kebijakan untuk mengubah arah kebijakan menjadi lebih pro-rakyat.

Hingga sore hari, aksi demonstrasi di Jakarta berakhir dengan tertib setelah massa aksi membentangkan spanduk besar di tugu ikonik pusat kota. Meski sempat terjadi ketegangan saat proses pendudukan tugu, para mahasiswa akhirnya membubarkan diri dengan damai. Aksi tersebut menjadi pengingat bagi pemerintah mengenai pentingnya menjaga dialog terbuka dengan masyarakat sipil di tengah berbagai tantangan pembangunan nasional yang sedang dihadapi saat ini.