Dewablog.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Sumatera dan Kalimantan hingga saat ini masih menjadi perhatian serius. Meskipun berbagai upaya pemadaman telah dikerahkan oleh tim di lapangan, kepulan asap tebal masih terus menyelimuti area terdampak, bahkan dampaknya dilaporkan telah menjangkau negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Kondisi buruk kualitas udara ini bahkan memaksa sejumlah institusi pendidikan di daerah terdampak untuk menghentikan kegiatan belajar mengajar tatap muka demi melindungi kesehatan para siswa.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pakar bidang kebakaran hutan dan lahan dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, menjelaskan bahwa tantangan utama dalam memadamkan api saat ini adalah pengaruh fenomena El Nino yang cukup kuat. Fenomena iklim tersebut mengakibatkan curah hujan menurun drastis hingga mendekati titik nol, yang pada akhirnya membuat kondisi bahan bakar di lahan gambut menjadi sangat kering dan rentan terbakar. Tingkat kerentanan ini terus meningkat seiring dengan panjangnya musim kemarau yang mengurangi ketersediaan pasokan air alami di dalam tanah.

“Jadi memang curah hujannya minimum dan ini bukan di awal-awal musim. Artinya, semakin lama semakin masuk ke periode El Nino, curah hujannya mendekati nol, kondisi bahan bakar gambut itu menjadi lebih rentan,” ujar Fiqri Ardiansyah, Pakar Kebakaran Hutan dan Lahan UGM.

Fiqri menegaskan bahwa kekeringan ekstrem bukan satu-satunya faktor pemicu munculnya api. Kebakaran tetap memerlukan interaksi antara ekosistem, bahan bakar, dan sumber penyulut atau panas. Perbedaan mendasar terletak pada cara penanganan, di mana karakteristik api pada lahan gambut jauh lebih kompleks dibandingkan dengan ekosistem non-gambut. Pada ekosistem biasa, api umumnya terlihat di permukaan dan menjalar ke tajuk tanaman, sehingga lebih mudah diidentifikasi oleh tim pemadam.

Sebaliknya, pada lahan gambut, api memiliki kemampuan untuk merambat hingga ke lapisan bawah tanah. Hal ini menyebabkan titik api sering kali tidak terlihat secara kasatmata meskipun permukaan lahan tampak sudah padam. Bara api yang tersembunyi di bawah lapisan tanah tersebut dapat bertahan lama dan sewaktu-waktu kembali memicu kebakaran baru apabila hanya disiram pada bagian permukaan saja. Kompleksitas inilah yang membuat identifikasi titik api menjadi sangat sulit dilakukan secara efektif.

Selain kendala teknis dari karakteristik lahan, hambatan logistik juga menjadi penghalang besar dalam operasi pemadaman di lapangan. Banyak titik api dilaporkan berada di wilayah terpencil dengan aksesibilitas yang sangat terbatas bagi personel maupun peralatan berat. Keterbatasan sumber air di sekitar lokasi kejadian semakin memperparah situasi, sehingga api tidak dapat dipadamkan dengan cepat sebelum meluas ke area yang lebih luas. Hingga kini, upaya penanggulangan terus dilakukan dengan memperhatikan kendala ketersediaan sarana dan prasarana di wilayah-wilayah yang sulit terjangkau tersebut.