Dewablog.com — Presiden Prancis Emmanuel Macron menggelar pertemuan darurat bersama jajaran menteri di Istana Elysee sebelum menyampaikan pidato kenegaraan resmi menyusul gelombang demonstrasi nasional yang berujung kerusuhan, aksi pembakaran, dan penjarahan massal di sejumlah wilayah Prancis.
Pidato presiden dijadwalkan berlangsung pada pukul 18.00 GMT saat otoritas berwenang tengah menginventarisasi besaran kerusakan dan kerugian akibat bentrokan hebat yang pecah pada hari Sabtu. Aksi unjuk rasa yang semula terfokus pada isu ekonomi tersebut berubah menjadi anarkis dengan menyasar fasilitas publik dan pusat perbelanjaan.
Eskalasi kekerasan antara massa demonstran dan petugas keamanan juga menelan korban jiwa setelah seorang pengunjuk rasa dilaporkan meninggal dunia akibat henti jantung di tengah kericuhan di Paris. Situasi memanas ini memaksa aparat keamanan mengerahkan kekuatan penuh guna meredam aksi massa yang terus meluas.
Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat bahwa aparat kepolisian telah mengamankan sedikitnya 1.800 orang di berbagai kota atas dugaan perusakan fasilitas kota dan penjarahan toko secara massal. Gelombang bentrokan tersebut turut mengakibatkan lebih dari 500 personel kepolisian menderita luka-luka akibat lemparan proyektil dan serangan fisik saat mengendalikan ketertiban di lapangan.
Menghadapi perusakan yang kian meluas, Presiden Prancis menegaskan komitmen pemerintah untuk menindak tegas siapa saja yang terbukti melakukan pelanggaran hukum dan kekerasan selama aksi berlangsung.
“Mereka yang melakukan vandalisme, menyerang kantor administrasi atau tempat usaha, maupun melakukan penjarahan, bahkan di kantor-kantor pemerintahan kota akan dituntut dan dihukum,” tegas Presiden Emmanuel Macron.
Jajaran menteri menuding keterlibatan kelompok ultra-kiri sebagai pemicu utama di balik meningkatnya eskalasi kekerasan jalanan. Gesekan sosial ini terjadi pada momen politik yang sangat krusial, bertepatan dengan enam bulan menjelang pemilu nasional untuk menentukan suksesor yang akan memimpin Prancis pascakepemimpinan Macron.
Akar ketegangan sosial ini bermula dari kekhawatiran masyarakat terhadap melonjaknya biaya kebutuhan hidup dan laju inflasi global. Kondisi tersebut diperparah oleh lonjakan harga bahan bakar menyusul pecahnya konflik di Timur Tengah setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu.
Demonstrasi berdarah pada akhir pekan itu juga menjadi puncak dari rangkaian aksi unjuk rasa selama empat pekan berturut-turut yang sebelumnya digerakkan oleh para pelajar sekolah menengah atas. Aksi para pelajar tersebut di beberapa kesempatan tercatat sempat memicu gesekan kecil dengan aparat sebelum akhirnya berkembang menjadi kerusuhan massal.
Dampak kerusuhan tidak hanya melumpuhkan ibu kota Paris, tetapi juga memorak-porandakan kawasan lain seperti Marseille yang menghadapi aksi penjarahan toko berskala besar oleh gerombolan massa tak terkendali.
Di tengah tekanan krisis keamanan domestik dan proses pemulihan ketertiban umum di dalam negeri, Macron tetap dijadwalkan bertolak pada hari Senin untuk menjalankan agenda kunjungan kerja selama tiga hari ke empat negara Arab di kawasan Teluk yang terdampak konflik regional.


