Dewablog.com — Peta kekuatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mengalami perubahan signifikan mulai perdagangan Senin (2/11/2026). Langkah strategis ini diambil dengan mengeluarkan sebanyak 81 saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan indeks utama bursa saham nasional tersebut.
Perubahan komposisi ini diproyeksikan akan membuat saham-saham perbankan berkapitalisasi besar semakin dominan dalam menentukan arah pergerakan IHSG. Sebelumnya, saham-saham yang masuk dalam kategori HSC tersebut menyumbang porsi sekitar 18 persen terhadap keseluruhan perhitungan indeks, sehingga dampaknya terhadap volatilitas pasar cukup terasa bagi para investor.
Dengan dikeluarkannya 81 saham HSC, bobot dari konstituen yang tersisa, terutama emiten perbankan besar, akan mengalami penyesuaian ke atas. Hal ini mencerminkan upaya otoritas bursa untuk memastikan indeks lebih mencerminkan fundamental perusahaan dengan likuiditas yang lebih terjaga serta kepemilikan publik yang lebih luas di pasar modal Indonesia.
Berdasarkan estimasi analisis dari BRI Danareksa Sekuritas pada Jumat (30/10/2026), peningkatan bobot akan terlihat jelas pada tiga bank raksasa tanah air. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diproyeksikan mengalami kenaikan bobot dari 8,75 persen menjadi 9 persen dalam struktur indeks yang baru.
Peningkatan serupa juga akan dialami oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang bobotnya naik dari 7,93 persen menjadi 9 persen. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan kenaikan bobot yang cukup signifikan dari 5,57 persen menjadi 6,95 persen setelah penerapan aturan baru tersebut.
Dominasi perbankan yang semakin kuat ini diprediksi akan menjadi penentu utama sentimen pasar di masa mendatang. Para pelaku pasar kini mencermati bagaimana pergerakan harga saham perbankan besar tersebut akan mempengaruhi indeks secara keseluruhan, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis dan fluktuatif.
Langkah penyesuaian bobot ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas IHSG sebagai tolok ukur kinerja pasar modal yang lebih representatif. Bagi investor, perubahan ini menjadi sinyal penting untuk melakukan peninjauan kembali terhadap strategi portofolio investasi agar tetap sejalan dengan perubahan komposisi indeks yang baru mulai berlaku pekan depan.


