Dewablog.com — Bandara Internasional Riyadh di Arab Saudi diguncang serangan rudal yang menghantam pesawat Airbus A320 milik maskapai Saudi Airlines pada Kamis (8/10/2026) pagi waktu setempat. Serangan udara yang diklaim dilakukan oleh kelompok pemberontak Houthi asal Yaman tersebut mengakibatkan armada pesawat hangus terbakar dan menewaskan seorang pilot yang tengah bertugas.
Kepulan asap hitam pekat dan kobaran api terlihat membubung tinggi dari area parkir pesawat di bandara tersebut, memicu kepanikan di sekitar lokasi kejadian. Sejumlah saksi mata melaporkan adanya dentuman keras sebelum api dengan cepat melahap badan pesawat yang sedang terparkir. Rekaman video dan foto-foto mengenai insiden tragis ini langsung beredar luas di berbagai platform media sosial, memperlihatkan kondisi fisik pesawat yang mengalami kerusakan sangat parah akibat hantaman proyektil.
Analisis visual yang dilakukan oleh para pemantau independen mengonfirmasi bahwa lokasi kejadian berada di dalam kompleks Bandara Riyadh. Kepastian tersebut diperoleh setelah mencocokkan struktur bangunan terminal, tiang lampu landasan, serta marka jalan yang terlihat dalam video amatir dengan citra satelit terbaru. Meskipun sempat ada kesimpangsiuran informasi, bukti-bukti fisik di lapangan memperkuat laporan bahwa serangan tersebut berhasil menembus sistem keamanan udara di ibu kota Arab Saudi.
Pihak maskapai Saudi Airlines akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini pada hari Jumat (9/10/2026). Manajemen maskapai mengonfirmasi bahwa salah satu armada mereka mengalami kerusakan fatal akibat serangan tersebut dan menyampaikan duka mendalam atas gugurnya salah satu kru terbaik mereka di lokasi kejadian.
“Maskapai menyatakan salah satu pesawat rusak ketika berada di lapangan bandara, namun tak ada penumpang di dalamnya,” tulis manajemen Saudi Airlines sebagaimana dikutip dari media Al-Arabiya.
Korban jiwa dalam serangan ini diidentifikasi sebagai Kapten Hampud Ali Al-Kalthami, seorang pilot senior yang tengah berada di sekitar pesawat saat ledakan terjadi. Kepergian sang pilot meninggalkan duka mendalam bagi industri penerbangan sipil Arab Saudi, yang kini mulai mengkhawatirkan keselamatan operasional di bandara-bandara utama negara tersebut akibat meningkatnya intensitas serangan lintas batas.
Serangan mematikan ini semakin menegaskan eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok pemberontak Houthi yang berbasis di Yaman. Sebagai pemimpin koalisi militer internasional yang mendukung pemerintah Yaman yang sah, Arab Saudi telah lama menjadi target utama serangan udara Houthi. Ketegangan antara kedua belah pihak dilaporkan kembali memanas sejak bulan Juli lalu, memicu kekhawatiran akan stabilitas keamanan regional di Semenanjung Arab.
Kelompok Houthi yang mendapat dukungan dari Iran secara terbuka menyatakan bertanggung jawab atas peluncuran rudal tersebut dan bersumpah akan terus menargetkan berbagai infrastruktur penting di Arab Saudi. Mereka juga menegaskan komitmennya untuk terus mengganggu wilayah udara pertahanan udara Saudi sebagai bentuk balasan atas kampanye militer koalisi di Yaman. Insiden di Bandara Riyadh ini diperkirakan akan memicu respons militer yang lebih keras dari pihak koalisi pimpinan Saudi dalam beberapa hari ke depan.


