Dewablog.com — Pemerintah Arab Saudi sempat mengaktifkan status peringatan potensi bahaya di Ibu Kota Riyadh menyusul munculnya ancaman serangan udara dari kelompok Houthi yang berbasis di Yaman. Peringatan darurat yang sempat memicu kewaspadaan tinggi di kawasan ibu kota tersebut diberlakukan selama beberapa menit sebelum akhirnya resmi dicabut oleh otoritas keselamatan setempat setelah kondisi dipastikan aman.
Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi mengonfirmasi pencabutan peringatan bahaya di Riyadh setelah melakukan evaluasi cepat terhadap potensi ancaman yang ada. Kendati peringatan telah dicabut, pihak berwenang Kerajaan Arab Saudi tetap memberikan imbauan krusial kepada seluruh warga negara dan penduduk asing agar tetap meningkatkan kewaspadaan diri di tempat umum.
Dalam imbauan resmi tersebut, otoritas keamanan meminta masyarakat untuk sepenuhnya mematuhi arahan keselamatan dengan menghindari kegiatan berkumpul dalam kelompok besar di area publik. Pihak berwenang juga melarang keras warga mengambil foto atau merekam video di lokasi-lokasi terdampak maupun area obyek vital demi alasan keamanan nasional.
Ketegangan di ibu kota Saudi ini terjadi di tengah memanasnya kembali pertempuran di kawasan tersebut. Berdasarkan laporan kantor berita Saba yang dikelola kelompok Houthi, sedikitnya 33 orang dilaporkan tewas dan 39 lainnya luka-luka dalam sebuah insiden serangan berdarah yang terjadi pada hari Sabtu lalu.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu serangan paling mematikan yang dilaporkan sejak pertempuran terbuka antara pasukan Arab Saudi dan kelompok yang mendapat dukungan dari Iran itu kembali berkobar pada bulan Juli. Kendati demikian, laporan mengenai jumlah korban tewas maupun luka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh kantor berita internasional.
Menanggapi klaim korban tersebut, Pusat Komunikasi Internasional Arab Saudi menegaskan bahwa pihak pemerintah saat ini sedang melakukan penyelidikan menyeluruh untuk memverifikasi laporan yang disampaikan pihak Houthi. Langkah penyelidikan ini diambil guna mengonfirmasi fakta sebenarnya di lapangan serta mengantisipasi dampak keamanan lebih lanjut.
Maraknya kembali aksi saling serang antara Arab Saudi dan kelompok Houthi menandai runtuhnya kesepakatan gencatan senjata tahun 2022 yang ditengahi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Gencatan senjata tersebut sebelumnya sempat menjadi pijakan penting dalam meredam eskalasi militer di kawasan Semenanjung Arabia.
Selama masa berlaku gencatan senjata PBB tersebut, aksi militer berskala besar berhasil dihentikan, termasuk gempuran koalisi pimpinan Arab Saudi dan serangan balasan dari kelompok Houthi yang menguasai Ibu Kota Yaman, Sanaa. Berakhirnya periode relatif damai itu kini memicu kembali krisis keamanan yang mengancam stabilitas regional.
Sejak pertempuran kembali intensif, kelompok Houthi berulang kali meluncurkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang ditargetkan ke infrastruktur sipil dan ekonomi Saudi, seperti bandara internasional serta fasilitas pengolahan minyak bumi. Sebagai balasannya, koalisi militer Arab Saudi terus mengagendakan serangan udara balasan ke wilayah Yaman untuk mendukung kekuatan sekutu di negara tersebut.


