Dewablog.com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan perubahan sikap yang sangat drastis hanya dalam rentang waktu dua hari setelah pelaksanaan pemilu sela. Trump, yang berasal dari Partai Republik, berbalik meluapkan kemarahan serta tuduhan kecurangan setelah sebelumnya sempat melontarkan pujian atas kemenangan telak yang diraih Partai Demokrat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Hasil akhir pemungutan suara memastikan Partai Demokrat berhasil mengambil alih kendali mayoritas di Kongres Amerika Serikat. Berdasarkan penghitungan suara, Partai Demokrat mengamankan sedikitnya 54 kursi dari total 100 kursi di Senat, sementara Partai Republik hanya memegang 44 kursi.

Kemenangan signifikan Partai Demokrat juga terjadi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat. Partai oposisi tersebut berhasil melambungkan perolehan kursi hingga menembus lebih dari 250 kursi dari total 435 kursi yang diperebutkan, menjadi capaian perolehan terbesar partai dalam kurun dua dekade terakhir.

Pada tanggapan awalnya sesaat setelah hasil pemungutan suara keluar, Trump memperlihatkan sikap yang relatif tenang dan dapat menerima kekalahan partainya. Pemimpin berusia 80 tahun tersebut bahkan melontarkan apresiasi yang tergolong langka kepada kubu lawan atas keberhasilan mereka menguasai DPR dan Senat sekaligus.

Dalam wawancara via telepon dengan media FOX News Democracy 26, Trump menyebut bahwa Partai Demokrat telah menjalankan strategi dan pekerjaan dengan sangat baik. Ia mengaitkan keberhasilan tersebut dengan penantian panjang oposisi yang telah menunggu momen kemenangan selama 11 tahun.

“Begini, saya mengatakan hal ini: Selamat kepada Partai Demokrat. Mereka telah melakukan pekerjaan yang baik,” ujar Donald Trump dalam wawancara tersebut.

Meskipun memberikan ucapan selamat, Trump secara tegas menolak untuk memikul tanggung jawab pribadi atas kekalahan meluas yang dialami Partai Republik. Ia menegaskan tidak menganggap hasil pemilu sela ini sebagai pukulan yang ditujukan langsung kepada kepemimpinannya di Gedung Putih.

Gaya bicara yang bernada mendamaikan tersebut dinilai sangat tidak biasa bagi sosok Trump. Selama masa kampanye pemilu sela, Trump dikenal rajin melancarkan serangan verbal bergelombang terhadap Partai Demokrat dengan menyematkan berbagai label ekstrem, mulai dari komunis hingga Islamis.

Trump menyatakan bersedia untuk bekerja sama dengan DPR dan Senat yang kini berada di bawah kendali Partai Demokrat dalam berbagai isu pemerintahan. Ia menegaskan komitmennya untuk menerima hasil penghitungan suara pemilu sela secara terbuka, berbeda dengan penolakannya saat pilpres 2020 lalu.

Kendati menyatakan siap bekerja sama, Trump tetap melayangkan peringatan keras terkait kewenangan eksekutif yang dimilikinya. Ia menegaskan tidak akan ragu untuk memanfaatkan hak veto presiden apabila Kongres mengajukan rancangan undang-undang yang dianggap tidak sejalan dengan kebijakannya.

Ia menggambarkan bahwa sekalipun Partai Demokrat berhasil menyusun puluhan rancangan undang-undang yang dibanggakan, berkas tersebut dapat langsung dikembalikan dengan stempel veto. Langkah ini menjadi sinyal awal dari potensi kebuntuan politik antara Gedung Putih dan Kongres selama dua tahun sisa masa jabatannya.

Dalam evaluasi awalnya, Trump juga mengakui bahwa isu keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran memberikan dampak besar terhadap penurunan dukungan pemilih bagi Partai Republik. Konflik bersenjata yang berlarut-larut tersebut memicu lonjakan harga minyak dalam negeri yang memicu keresahan publik.

Sejumlah jajak pendapat menjelang hari pemungutan suara memang mengindikasikan ketidaksukaan tinggi dari para pemilih AS terhadap penanganan isu Iran. Namun, Trump berargumen bahwa sebagian masyarakat tetap memahami urgensi dan kepentingan strategis dari keputusan-keputusan eksekutif yang telah ia ambil.

Sikap kooperatif Trump rupanya tidak berlaku untuk internal Partai Republik. Melalui platform media sosial Truth Social miliknya, Trump mengalihkan kesalahan kepada rekan-rekan separtainya dan mengklaim bahwa kekalahan terjadi semata-mata karena dirinya tidak ikut bertarung langsung dalam lembar suara.

Namun, dinamika berubah total dua hari pasca pemungutan suara ketika perolehan suara Partai Demokrat semakin mendominasi. Saat berbicara kepada para wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, nada bicara Trump berbalik menjadi sangat keras dan penuh dengan nada kekecewaan.

“Pemilu kita sangat curang, Anda tidak akan bisa membayangkannya,” tegas Donald Trump saat memberikan keterangan pers di Ruang Oval Gedung Putih.

Eskalasi kekesalan Trump dipicu oleh perkembangan penghitungan suara di sejumlah wilayah kunci yang selama ini menjadi basis kuat Partai Republik. Salah satunya terjadi di negara bagian Mississippi, di mana kandidat Partai Demokrat, Scott Colom, berpeluang besar menciptakan kejutan sejarah.

Scott Colom, seorang politisi kulit hitam dari Partai Demokrat, berada di ambang kemenangan mengejutkan untuk merebut kursi Senat dari persaingan ketat di Mississippi. Sementara itu, persaingan Senat di Alaska juga menunjukkan kandidat petahana dari Partai Republik terus tertinggal dalam perolehan suara sementara.

Selain perolehan suara politik, Trump mengaitkan gejolak ekonomi domestik dengan hasil pemilu sela tersebut. Ia menuding bahwa penurunan tajam Indeks Harga Saham di bursa AS pada hari Kamis disebabkan langsung oleh kekhawatiran pasar terhadap kemenangan besar Partai Demokrat.

Melalui unggahan di media sosial, Trump menggunakan istilah ejekan khusus untuk menggambarkan Partai Demokrat sembari menyalahkan para pemilih atas anjloknya bursa saham. Ia menegaskan kembali argumentasi bahwa perolehan suara Partai Republik akan jauh berbeda jika namanya tercantum dalam pemilu.

Ia menuliskan pesan tegas dengan huruf kapital yang menyatakan bahwa kekalahan ini tidak akan terjadi seandainya dirinya menjadi salah satu kandidat di surat suara. Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan jarak yang ingin ia bangun dari performa para politisi Partai Republik di lapangan.

Pelaksanaan pemilu sela tahun ini sendiri difokuskan untuk memperebutkan seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat dan 35 dari total 100 kursi Senator di Kongres AS. Selain perebutan kursi legislatif di tingkat pusat, pemilu sela juga menentukan kursi gubernur serta berbagai posisi kepemimpinan di tingkat daerah.

Dalam kemarahannya di media sosial, Trump juga menyerang jaringan media berita Fox News yang selama ini dikenal dekat dan mendukung agendanya. Ia mengecam keputusan saluran berita tersebut yang terus-menerus memberikan panggung wawancara kepada tokoh-tokoh oposisi utama Partai Demokrat.

Secara khusus, Trump menyoroti hadirnya mantan Wali Kota New York, Bill de Blasio, dalam tayangan Fox News. Trump melabeli de Blasio sebagai salah satu wali kota terburuk dalam sejarah dan menilai kebiasaan saluran berita itu memberi ruang bagi pihak lawan menjadi salah satu pemicu kekalahan Partai Republik.