Dewablog.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan, khususnya di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, terus mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kawasan taman nasional harus dijaga dengan upaya ekstra karena statusnya sebagai kawasan konservasi yang krusial bagi ekosistem Indonesia.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Hingga Selasa (13/10/2026), luas lahan yang terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 639,23 hektare, dengan titik kebakaran terluas berada di Taman Nasional Tanjung Puting sebesar 513,89 hektare. Kondisi di lapangan cukup menantang karena medan yang berupa rawa serta sulitnya akses bagi kendaraan pemadam kebakaran konvensional.

“Berapa kau butuh pompa air? 50? Saya kirim 200,” tegas Presiden Prabowo Subianto saat merespons laporan kebutuhan peralatan pemadaman di lapangan.

Selain memberikan bantuan 200 unit pompa air, Presiden juga menyetujui anggaran sebesar Rp2 miliar untuk pembuatan 200 titik bor air di area terdampak. Langkah ini diambil setelah menerima laporan dari Pangdam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin, mengenai karakteristik lahan rawa yang memungkinkan pengambilan air melalui pengeboran sedalam 10 hingga 15 meter.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) sendiri terus berupaya mengintensifkan pemadaman meskipun menghadapi kendala berat berupa kabut asap tebal yang membatasi jarak pandang operasional helikopter. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, menyatakan bahwa pihaknya telah mengajukan permohonan operasi water bombing sejak 9 September 2026 dan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan keselamatan penerbangan.

Situasi sempat diwarnai dengan mundurnya sejumlah relawan dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) di Kotawaringin Barat. Para relawan menyatakan menarik diri karena merasa upaya pemadaman yang mereka lakukan tidak mendapat dukungan maksimal di lapangan. Menanggapi hal tersebut, pihak kementerian menyatakan memahami beratnya beban kerja tim di lapangan akibat luasnya wilayah dan sulitnya medan.

Dampak kabut asap akibat karhutla ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat di wilayah Kalimantan Selatan, salah satunya di Banjarbaru. Asap pekat menyebabkan jarak pandang sangat terbatas, memaksa para pengendara kendaraan bermotor untuk melaju dengan kecepatan rendah dan menyalakan lampu kendaraan meski di siang hari.

Sejumlah warga mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap kualitas udara yang kian memburuk. Meskipun asap terlihat semakin menebal setiap harinya, aktivitas sekolah bagi anak-anak tetap berlangsung secara normal, yang menimbulkan kecemasan tersendiri bagi orang tua murid di wilayah tersebut.

Presiden Prabowo juga memberikan arahan strategis terkait penguatan personel penjaga hutan. Ia meminta agar jumlah dan kapasitas polisi hutan ditambah secara bertahap hingga mencapai target 70 ribu personel untuk memastikan perlindungan hutan yang lebih efektif. Presiden bahkan menginstruksikan Polri untuk membantu proses pendidikan dan pelatihan bagi para polisi hutan tersebut.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, melaporkan bahwa penanganan karhutla kini difokuskan pada penguatan satuan tugas darat. Meskipun lahan yang terbakar di Tanjung Puting merupakan lahan mineral dan bukan gambut, upaya pemadaman tetap dilakukan secara masif melalui penambahan pasukan dan peralatan agar kebakaran tidak meluas lebih jauh.

Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah terus diperketat untuk memastikan distribusi bantuan, baik berupa pompa air maupun dukungan logistik lainnya, segera sampai ke tangan tim satgas di titik api. Pemerintah berkomitmen untuk menuntaskan karhutla ini demi menjaga kelestarian kawasan Taman Nasional Tanjung Puting serta kesehatan masyarakat di sekitarnya yang terdampak kabut asap.