Dewablog.com — Tim gabungan dari Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea Cukai berhasil mengungkap sekaligus membongkar laboratorium narkotika berskala besar di Kabupaten Pidie, Aceh. Operasi penindakan yang berlangsung pada Rabu (21/10) siang tersebut merupakan langkah strategis dalam memutus rantai peredaran narkoba yang diduga melibatkan jaringan internasional. Dalam penggerebekan tersebut, petugas berhasil mengamankan barang bukti sabu seberat 1,2 ton dan meringkus 11 orang tersangka yang diduga terlibat dalam proses produksi ilegal tersebut.
Laboratorium tersembunyi atau clandestine lab ini beroperasi di sebuah deretan ruko yang terletak di kawasan Mutiara Timur, Pidie. Guna mengelabui pengawasan warga sekitar dan aparat penegak hukum, para pelaku menutup rapat seluruh akses masuk ruko dan mematikan seluruh lampu bangunan agar terlihat tidak berpenghuni. Petugas gabungan yang tiba di lokasi sempat mencoba memanggil penghuni ruko, namun karena tidak adanya respons, tim terpaksa melakukan pendobrakan paksa pada pintu belakang bangunan.
Setelah berhasil masuk, petugas mendapati kondisi ruko yang gelap gulita dengan barang-barang produksi berserakan di dalam ruangan. Beberapa pelaku sempat mencoba melarikan diri dengan bersembunyi di balik tumpukan kardus, namun upaya tersebut gagal setelah tim gabungan melakukan pengepungan menyeluruh. Sebanyak enam orang berinisial LJ, XM, F, MY, AK, dan AY ditangkap di lokasi utama. Di saat yang hampir bersamaan, tim lain berhasil menangkap lima tersangka lainnya yakni RY, RM, RZ, MN, dan B di lokasi berbeda yang masih terafiliasi dengan sindikat yang sama.
Di dalam ruko tersebut, aparat menemukan pengaturan ruangan yang sangat sistematis untuk setiap tahapan produksi sabu. Ruangan-ruangan di sana dipenuhi dengan bahan kimia berbahaya serta peralatan produksi lengkap, mulai dari tabung gas, kompor, alat penyinaran, hingga mesin cuci yang dimodifikasi khusus untuk proses pengkristalan sabu. Sindikat ini diduga kuat merupakan jaringan narkoba internasional yang melibatkan aktor dari China, Malaysia, dan Indonesia.
“Sabu yang bisa dibilang terbaik atau dikenal dengan blue ice ini berhasil kita ungkap berkat kolaborasi, keterpaduan, dan joint operation antar-lembaga, baik Polri, BNN, Bea Cukai, serta didukung oleh masyarakat setempat,” ujar Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto.
Jenderal Suyudi Ario Seto yang meninjau langsung lokasi penggerebekan menegaskan bahwa keberhasilan ini menjadi capaian penting dalam melindungi generasi muda dari ancaman kehancuran akibat narkotika. Menurutnya, proses produksi yang dilakukan para pelaku menunjukkan keterlibatan ahli kimia berpengalaman yang bekerja secara terstruktur. Selain sabu siap edar, petugas menyita sejumlah barang bukti pendukung seperti 60 kaleng Titan Pro, empat kompor dua tungku, serta mesin pendingin yang digunakan untuk menjaga stabilitas suhu selama produksi berlangsung.
Sebagai tindak lanjut, aparat kepolisian saat ini tengah melakukan uji laboratorium forensik terhadap barang bukti yang disita untuk memastikan tingkat kemurniannya. Polri juga sedang memburu sejumlah buron yang diduga berperan sebagai pengatur lapangan, yakni Z, ES, J, BR, S, dan S. Selain itu, kerja sama internasional telah dijalin dengan pihak Komisi Pengawasan Narkotika Nasional Tiongkok untuk melacak aktor pengendali utama yang berinisial LX.
Di akhir keterangannya, Jenderal Suyudi memberikan imbauan kepada seluruh pemilik properti, terutama pemilik ruko atau rumah kontrakan, agar lebih selektif dalam menyewakan tempatnya. Ia menekankan pentingnya bagi pemilik properti untuk memastikan identitas penyewa guna mencegah pemanfaatan fasilitas oleh sindikat kejahatan. Polri berkomitmen untuk terus mendalami kasus ini hingga ke akar-akarnya demi membongkar jaringan narkoba yang lebih luas di Indonesia.


