Dewablog.com — Perwira menengah Kepolisian Negara Republik Indonesia, AKBP Netty Rosdiana Siagian, resmi memutuskan untuk mengundurkan diri dari institusi Polri demi memfokuskan diri pada pengabdian masyarakat serta dunia akademis. Keputusan mengejutkan ini diambil untuk memberikan perhatian penuh kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan, khususnya kelompok rentan dan penyandang disabilitas.
Mantan Kapolsek Menteng ini mengungkapkan bahwa setelah tidak lagi menjabat sebagai anggota kepolisian, dirinya telah merancang berbagai rencana kegiatan sosial. Fokus utamanya adalah mendatangi berbagai panti sosial di wilayah Indonesia serta membagikan ilmunya sebagai pengajar di beberapa perguruan tinggi.
Netty menegaskan bahwa wadah pengabdian kepada bangsa dan negara tidak terbatas hanya pada profesi sebagai anggota Polri semata. Menurutnya, pengabdian sejati terletak pada bagaimana seseorang hadir secara langsung di tengah masyarakat yang sangat membutuhkan pertolongan.
“Jadi, pengabdian itu bukan cuma di Polri. Bagaimana kebenaran kita langsung kepada masyarakat yang membutuhkan kehadiran kita,” ujar AKBP Netty Rosdiana Siagian.
Secara khusus, perwira bergelar doktor ini menaruh perhatian besar pada keberadaan kelompok penyandang disabilitas atau difabel. Ia berkeinginan untuk mendalami lebih jauh problematika yang dihadapi oleh kelompok tersebut serta membantu merumuskan solusi nyata untuk membenahi bantuan yang mereka perlukan.
Langkah ini diambil karena ia menganggap pengabdian sebagai amanah langsung dari Tuhan yang memiliki cakupan sangat luas. Dengan terjun langsung ke tengah masyarakat sosial, Netty berharap dapat berkontribusi secara nyata tanpa terhalang oleh batasan-batasan struktural profesi terdahulu.
Selain memfokuskan diri pada aksi kemanusiaan, Netty juga merencanakan untuk menyalurkan kapasitas keilmuannya di ranah akademis. Berbekal latar belakang pendidikan tinggi dari Universitas Sriwijaya hingga meraih gelar doktor dalam bidang Ilmu Hukum, ia berniat mengajar di tingkat universitas.
Di balik keputusan pengunduran dirinya, Netty juga secara terbuka menyinggung adanya tatanan internal di institusi kepolisian yang dinilainya sudah tidak sejalan dengan prinsip serta hati nuraninya. Kendati tidak merinci secara detail tatanan yang dimaksud, ia menggarisbawahi pentingnya menjaga integritas dan prinsip moral.
“Saya gini, kalau ada pekerjaan misalnya tidak sesuai dengan hati nurani saya, saya dipaksa untuk istilahnya meluruskan yang bengkok, membengkokkan yang lurus. Itulah dalam tanda kutip itu tatanan, enggak mau,” tegas Netty.
Prinsip untuk tidak menutupi kesalahan atau membenarkan kekeliruan menjadi pegangan teguh bagi dirinya dalam mengambil keputusan sulit ini. Ia menegaskan tidak ingin dipaksa melakukan kompromi terhadap hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran hakiki dan prinsip kejujuran.
Sebelum memutuskan melepas seragam dan jabatannya, AKBP Netty Rosdiana mencatatkan rekam jejak karier yang terbilang cemerlang di kepolisian dengan berbagai pencapaian dan penghargaan mendalam selama bertugas.
Pada tahun 2005, Netty sempat mendapat kepercayaan menduduki posisi strategis sebagai pemimpin Unit Motor Gede (Moge) legendaris bernama The Road Force Blue yang berada di bawah naungan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya.
Atas dedikasi serta kinerjanya di lapangan, ia juga dianugerahi berbagai penghargaan bereputasi. Di antaranya adalah Indonesia Women Excellence Award pada tahun 2021, serta penghargaan sebagai Polisi Humanis Metropolitika pada tahun 2025.
Prestasi Netty kembali diperkuat ketika ia dinobatkan sebagai Perempuan Inspiratif Nasional oleh Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) pada April 2026, tak lama sebelum pengunduran dirinya mencuat ke publik.
Keputusan pengunduran diri AKBP Netty Rosdiana ini kini menandai babak baru dalam perjalanan kariernya. Dari seorang perwira polisi yang aktif dalam penegakan hukum, ia melangkah menjadi seorang akademisi sekaligus pejuang sosial bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan.


