Dewablog.com — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berupaya keras menggalang dukungan pemilih di tengah persaingan ketat dalam pemilihan umum pertama yang digelar sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Pemungutan suara yang berlangsung panas ini mempertemukan pemimpin veteran dari Partai Likud tersebut dengan rival utamanya, Gadi Eisenkot, yang memimpin Partai Yashar berhaluan tengah.
Netanyahu mengimbau para pendukungnya untuk mengesampingkan seluruh kegiatan rekreasi dan mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) secara langsung. Pemimpin terlama dalam sejarah politik Israel itu menegaskan pentingnya partisipasi pemilih Likud guna mempertahankan kursi pemerintahan dan mencegah kekuatan politik oposisi memenangkan pemilu.
“Kita tidak bisa membiarkan pertarungan ini berakhir di tangan kelompok kiri dan partai-partai Arab yang ingin mengakhiri negara Yahudi. Jadi, jangan ada acara barbeku, jangan pergi ke pantai. Pergilah ke TPS dan pilih Likud,” tegas Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Selain mengajak pemilihnya ke TPS, Netanyahu juga menyerukan agar waktu penutupan tempat pemungutan suara diperpanjang melewati jadwal resmi pada pukul 22.00 waktu setempat. Langkah ini diiringi tuduhan dari Netanyahu bahwa warga Arab Israel berupaya melakukan kecurangan untuk mencuri pemilu, sebuah tuduhan yang langsung memicu gelombang kritik dan tudingan intimidasi dari komunitas minoritas Arab.
Komite Pemilihan Umum Israel mencatat antusiasme masyarakat cukup tinggi dengan tingkat partisipasi pemilih secara nasional mencapai 66,7 persen hingga pukul 18.00 waktu setempat. Angka tersebut mencatatkan rekor partisipasi tertinggi pada jam yang sama sejak pencatatan statistik pemilu dimulai pada tahun 1973.
Pelaksanaan pemilu kali ini berlangsung di bawah bayang-bayang trauma nasional pascaserangan 7 Oktober 2023 dan kecamuk perang regional yang meluas di berbagai front. Isu keamanan nasional serta pertanggungjawaban politik atas kegagalan intelijen dan pertahanan pemerintah menjadi topik sensitif yang sangat dominan selama masa kampanye.
Di samping tekanan domestik, Israel juga harus menghadapi meningkatnya tekanan dari dunia internasional akibat eskalasi militer dengan Iran, operasi penghancuran di Jalur Gaza, perluasan pemukiman di Tepi Barat, serta rentetan kekerasan di wilayah pendudukan. Kondisi geopolitik yang memanas tersebut menambah kompleksitas dinamika pemilu nasional ini.
Hasil jajak pendapat terakhir menunjukkan posisi Netanyahu bersaing sangat tipis dengan Gadi Eisenkot, mantan kepala militer Israel berusia 66 tahun. Eisenkot yang memiliki gaya kepemimpinan cenderung tenang dinilai publik menjadi kontras yang sangat kontradiktif jika dibandingkan dengan gaya kepemimpinan dominan yang ditunjukkan Netanyahu selama berdekade-dekade.
Menjelang pemberian suara, Eisenkot sempat mendatangi makam putranya, Gal, yang gugur saat bertempur di Jalur Gaza untuk memberikan penghormatan terakhir secara tertutup. Peristiwa gugurnya sang putra sebelumnya telah menarik simpati luas dari publik Israel, sebelum akhirnya Eisenkot menyerukan perubahan kepemimpinan nasional.
“Pemerintahan terburuk sejak negara ini didirikan,” ujar Pemimpin Partai Yashar Gadi Eisenkot merujuk pada rezim pemerintahan yang dipimpin Netanyahu.
Sementara itu, Partai Yashar menolak keras usulan perpanjangan waktu pemungutan suara yang diajukan Netanyahu karena dinilai tidak memiliki dasar hukum atau kejadian luar biasa di lapangan. Partai tersebut bahkan menuduh Netanyahu tengah menyusun skenario dan menyiapkan landasan untuk menggugat serta mempertanyakan keabsahan hasil pemilu apabila hasil akhirnya tidak berpihak kepada Partai Likud.


