Dewablog.com — Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, menyatakan harapannya agar pemerintahan baru Israel segera terbentuk guna memungkinkan dimulainya kembali perundingan damai. Harapan tersebut disampaikan Abbas di tengah kebuntuan politik yang melanda Israel pasca pengumuman hasil akhir pemilihan umum oleh Komite Pemilu Pusat (CEC) pada Jumat (30/10/2026).
Dalam pertemuan dengan Presiden Siprus, Nikos Christodoulides, di Nikosia pada Kamis (28/10) waktu setempat, Abbas menegaskan komitmen pihak Palestina untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menurutnya, dialog yang konstruktif merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai stabilitas dan keamanan jangka panjang bagi kedua pihak.
“Selama bertahun-tahun, kami telah mengulurkan tangan kepada pihak Israel demi mencapai perdamaian, agar Israel dan Palestina dapat hidup dalam keamanan, stabilitas, dan kedamaian,” ujar Presiden Palestina, Mahmoud Abbas.
Situasi politik di Israel saat ini memang sedang mengalami ketidakpastian setelah hasil pemilu menunjukkan tidak ada blok politik utama yang mampu mengamankan mayoritas 61 kursi di Knesset dari total 120 kursi yang tersedia. Koalisi yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tercatat hanya memperoleh 53 kursi, sementara kubu oposisi di bawah pimpinan Gadi Eisenkot meraih 48 kursi. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya kebuntuan politik berkepanjangan yang berpotensi memaksa Israel menggelar pemilu ulang untuk kesekian kalinya.
Terhentinya proses perdamaian dalam beberapa tahun terakhir telah memperburuk situasi di lapangan, terutama di wilayah Tepi Barat. Ketegangan semakin meningkat seiring dengan kebijakan pemerintahan Netanyahu sebelumnya yang memperluas permukiman serta sikap para menteri sayap kanan garis keras dalam koalisinya. Sejumlah anggota kabinet tersebut secara terbuka bahkan telah menyerukan pencaplokan wilayah Tepi Barat serta mendorong kebijakan yang memicu eksodus warga Palestina.
Implikasi dari kebuntuan politik ini diprediksi akan memperpanjang masa ketidakpastian di kawasan Timur Tengah. Selain masalah permukiman, tantangan besar lainnya adalah upaya pemulihan Jalur Gaza yang kini berada dalam kondisi hancur akibat perang yang pecah sejak Oktober 2023. Perang tersebut telah menyisakan dampak kemanusiaan yang mendalam dan mengubah sebagian besar wilayah Gaza menjadi puing-puing bangunan.
Meskipun tantangan yang dihadapi sangat besar, Abbas tetap menekankan pentingnya komunikasi diplomatik antara kedua pihak. Ia berharap pemerintahan baru yang akan muncul nanti memiliki pandangan yang berbeda dalam menyikapi isu perdamaian dibandingkan dengan kabinet sebelumnya. Pengakuan internasional terhadap kedaulatan Palestina yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu poin yang diharapkan mampu memberikan tekanan positif dalam proses negosiasi mendatang.
Negosiasi koalisi di Israel kini diperkirakan akan berlangsung sangat alot dan memakan waktu berminggu-minggu. Selama proses tersebut, stabilitas kawasan kemungkinan besar masih akan terpengaruh oleh dinamika politik internal Israel yang belum menemui titik temu. Komunitas internasional kini menanti langkah selanjutnya dari para pemimpin partai politik di Israel dalam menentukan masa depan pemerintahan mereka sekaligus masa depan hubungan dengan Palestina.


