Dewablog.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan hingga melampaui level Rp18.100 per dolar AS pada perdagangan siang hari, Senin, 26 Oktober 2026. Pelemahan ini terjadi seiring menguatnya mata uang Paman Sam secara global menjelang pengumuman keputusan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Berdasarkan data pasar uang Bloomberg pada Senin siang, rupiah mencatatkan penurunan sebesar 0,24 persen ke posisi Rp18.123 per dolar AS. Laju pelemahan mata uang Garuda terus berlanjut hingga menyentuh level Rp18.129 per dolar AS pada pukul 13.42 WIB, setelah sebelumnya dibuka menguat tipis 0,11 persen di level Rp18.080 per dolar AS pada sesi pembukaan pagi hari.

Penguatan dolar AS tidak hanya terjadi terhadap mata uang rupiah, melainkan juga membayangi mayoritas mata uang utama dunia lainnya. Dolar AS tercatat menguat 0,14 persen terhadap euro (EUR), serta masing-masing naik 0,06 persen terhadap yen Jepang (JPY) dan dolar Kanada (CAD) pada sesi perdagangan yang sama.

Sementara itu, data finansial dari RTI Business mencatat dolar AS mengalami penguatan sebesar 0,25 persen ke tingkat Rp18.112 per dolar AS pada pukul 13.32 WIB. Secara akumulatif sepanjang tahun berjalan 2026, nilai tukar dolar AS telah mencatatkan kenaikan signifikan mencapai 8,60 persen terhadap nilai tukar rupiah.

Hasil riset yang dirilis oleh BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan bahwa posisi rupiah saat ini mulai mendekati rekor terendah sepanjang sejarah. Sebelumnya, level terendah pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar AS sempat berada di posisi Rp18.279 per dolar AS pada bulan Juli 2026 lalu.

Para analis riset menjelaskan bahwa tekanan terhadap nilai tukar domestik perlu mendapat perhatian dan kewaspadaan ekstra, khususnya menjelang pengumuman penting terkait kebijakan suku bunga oleh The Fed yang dijadwalkan pada 29 Oktober 2026. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter di Amerika Serikat, gejolak inflasi global, serta penguatan mata uang dolar AS secara menyeluruh berpotensi terus memicu tingginya volatilitas pasar uang dan aliran modal asing.

Pelemahan mata uang nasional yang berlangsung secara terus-menerus ini diperkirakan dapat memicu dampak domino terhadap stabilitas pasar keuangan dalam negeri, salah satunya berpotensi menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia melalui peningkatan risiko pelarian modal asing dari pasar domestik.

Selain risiko arus modal keluar, berlanjutnya depresiasi rupiah turut meningkatkan beban biaya impor barang baku dan penolong bagi para pelaku industri nasional. Di sisi lain, kondisi ini juga berpotensi memperberat beban keuangan korporasi dalam negeri yang memiliki kewajiban utang luar negeri berdenominasi mata uang dolar AS.

“Bagi pasar domestik, pelemahan rupiah berpotensi menambah tekanan terhadap IHSG melalui risiko capital outflow, kenaikan biaya impor, dan meningkatnya beban perusahaan dengan utang berdenominasi dolar AS. Investor perlu mencermati pergerakan USD/IDR dan respons pasar terhadap keputusan The Fed,” tulis tim riset BRI Danareksa Sekuritas.

Melihat kondisi pergerakan pasar uang terkini, para pelaku pasar dan investor domestik diimbau untuk tetap bersikap cermat dan waspada terhadap pergerakan pasangan mata uang USD/IDR. Penyesuaian portofolio investasi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika global dan potensi respons pasar pascapengumuman resmi dari Bank Sentral AS dalam beberapa hari mendatang.