Dewablog.com — Aksi penembakan brutal melanda sebuah upacara pemakaman di Gereja Hamoud, wilayah Karak, Yordania, hingga menyebabkan sedikitnya tujuh orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Pihak berwenang Yordania mengategorikan insiden mematikan terhadap kelompok minoritas Kristen tersebut sebagai tindakan terorisme yang dilancarkan oleh kelompok ekstremis.
Menerima laporan serangan tersebut, Raja Yordania, Raja Abdullah, langsung mendatangi lokasi kejadian di Karak beberapa jam setelah peristiwa berlangsung. Pemimpin Yordania tersebut menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam dan bersiap membalas aksi kekerasan ini dengan langkah paling keras demi menjaga stabilitas negara.
“Serangan teroris terhadap Karak akan dibalas dengan tindakan yang paling keras. Mereka yang berkhayal bisa memecah belah rakyat Yordania dengan peluru mereka tidak akan memiliki peluang di hadapan persatuan kita,” tegas Raja Abdullah.
Berdasarkan data resmi dari Menteri Kesehatan Yordania, selain korban tewas, tercatat sedikitnya 40 orang mengalami luka-luka akibat rentetan tembakan tersebut. Sebagian besar korban luka saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit pemerintah di kawasan Karak, sementara aparat keamanan terus mengerahkan personel untuk memburu para pelaku yang melarikan diri.
Kepala Direktorat Keamanan Publik Yordania, Mayor Jenderal Abdallah al-Maaytah, menyatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa penembakan ini merupakan peristiwa yang sangat langka di Yordania. Pihak kepolisian dan tentara kini memperketat pengamanan di sekitar lokasi kejadian serta jalur-jalur keluar dari wilayah Karak untuk menyergap para penyerang.
Menteri Dalam Negeri Yordania, Mazin Al Farrayeh, menjelaskan bahwa penyelidikan awal mengarah pada keterlibatan kelompok ekstremis. Kendati demikian, otoritas keamanan menekankan bahwa masih terlalu dini untuk memastikan apakah para pelaku terhubung secara langsung dengan jaringan militan tertentu di dalam maupun di luar negeri.
Aksi penyerangan ini juga terekam oleh kamera pengawas keamanan (CCTV) yang terpasang di area gereja. Rekaman video yang disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah Al-Mamlaka memperlihatkan tiga pria bersenjata melepaskan tembakan secara bertubi-tubi dari area trotoar sembari berlindung di balik pepohonan dan tembok rendah sebelum akhirnya berlari mendekati pintu masuk gereja.
Kesaksian dari lokasi kejadian menggambarkan suasana mencekam saat insiden berdarah itu berlangsung. Khaled Burqan, salah satu warga yang menghadiri upacara pemakaman, menuturkan bahwa terdapat puluhan pelayat yang berkumpul di dalam dan luar gereja ketika para pelaku tiba-tiba memberondongkan senjata api selama beberapa menit tanpa henti.
Saksi mata lainnya, Ihab Ammareen, mengungkapkan keharuan dan kepanikan luar biasa yang melanda para pelayat saat tembakan meletus. Ia menyaksikan banyak warga berlumuran darah jatuh ke lantai gereja diiringi jeritan dan tangisan dari mereka yang berusaha menyelamatkan diri dari jangkauan peluru penyerang.
Reaksi keras juga datang dari tatanan pemerintahan pusat di Amman. Perdana Menteri Yordania, Jafar Hassan, mengutuk keras insiden tersebut dan menyebutnya sebagai buah dari radikalisme berbahaya yang berusaha merusak kedamaian bangsa.
“Ini adalah akibat dari ideologi teroris dan ekstremisme buta; kami tidak akan membiarkan masyarakat terjerumus ke jalan seperti ini,” ujar Perdana Menteri Yordania, Jafar Hassan.
Hingga saat ini, belum ada kelompok militan yang secara resmi menyatakan bertanggung jawab atas serangan di Gereja Hamoud tersebut. Meskipun Yordania dikenal sebagai salah satu negara paling stabil di kawasan Timur Tengah dan sekutu penting Amerika Serikat, pihak berwenang mengakui telah beberapa kali menggagalkan plot serangan teror dalam beberapa tahun terakhir.
Komunitas internasional turut menyampaikan kecaman mendalam atas aksi penembakan terhadap rumah ibadah ini. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menegaskan bahwa serangan yang menargetkan warga sipil dan tempat ibadah sama sekali tidak dapat dibenarkan atas alasan apa pun.
Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, turut menyampaikan kutukan senada melalui media sosial. Ia menilai tindakan tersebut sebagai serangan yang sangat keji dan brutal terhadap kebebasan beragama serta keselamatan warga sipil yang sedang beribadah.
Masyarakat lokal di Karak menunjukkan simpati mendalam dengan berkumpul di rumah sakit pemerintah setempat untuk mendukung para korban dan keluarga yang berduka. Seorang warga Karak, Hani Al-Mbaydeen, mendesak pemerintah agar mengusut tuntas akar dari pemikiran radikal yang melatarbelakangi aksi kejam tersebut hingga ke akarnya.
Umat Kristen merupakan kelompok minoritas di Yordania yang hidup berdampingan secara damai dengan mayoritas Muslim. Wilayah Yordania sendiri memiliki banyak situs bersejarah yang tercatat dalam Alkitab sehingga kerap menjadi destinasi peziarah Kristen dari berbagai belahan dunia.
Serangan di Karak ini terjadi di tengah dinamika keamanan kawasan yang sempat memanas dalam beberapa bulan terakhir. Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan sejumlah wilayah konflik, Yordania terus meningkatkan kewaspadaan nasional untuk menjaga ketertiban serta stabilitas dalam negeri dari ancaman kelompok ekstremis.


