Dewablog.com — Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) secara resmi mengaitkan kelompok peretas asal Korea Utara dengan kasus pembobolan aset virtual senilai US$6,3 miliar atau setara dengan Rp114 triliun dari bursa mata uang kripto Binance. Aksi kejahatan siber berskala masif ini diduga dilakukan oleh kelompok yang dikenal dengan nama TraderTraitor, yang juga sempat dituduh terlibat dalam pencurian aset sebesar US$1,5 miliar dari platform Bybit pada tahun lalu. Dalam pernyataan resminya pada Sabtu (31/10/2026), FBI menyebut para pelaku kini tengah berupaya mencuci hasil curian tersebut dengan cara mengonversikannya ke dalam mata uang kripto Ethereum secara bertahap.
FBI telah mengambil langkah proaktif dengan meminta penyedia layanan aset virtual di seluruh dunia untuk segera memblokir transaksi yang terindikasi terkait dengan operasi pencucian uang tersebut. Pihak otoritas Amerika Serikat itu juga telah merilis sejumlah alamat digital spesifik yang dicurigai menjadi saluran pergerakan dana hasil peretasan agar dapat diawasi oleh pihak terkait. Upaya ini dilakukan sebagai langkah antisipasi agar aset tersebut tidak semakin sulit untuk dilacak dan disita kembali.
Menanggapi insiden tersebut, pihak bursa kripto yang terdampak menegaskan komitmen mereka untuk menjamin keamanan dana nasabah agar tidak terjadi kerugian finansial bagi pengguna. Perusahaan telah mengambil kebijakan untuk mengganti sekitar 90 persen dari total nilai aset yang dicuri dengan menggunakan dana cadangan perusahaan guna membeli token baru. Sisanya, sebanyak 10 persen yang terdiri dari token dengan likuiditas rendah, akan segera dipulihkan dalam waktu dekat hingga mencapai 100 persen penggantian total.
“Kami akan terus membeli sisa aset token terkait hingga jumlah yang ditanggung mencapai 100 persen untuk seluruh token. Binance akan menanggung dampak keuangan dari dana yang dicuri ini, bukan pengguna kami,” ujar manajemen perusahaan melalui platform X.
Dana yang digunakan untuk melakukan pemulihan ini diambil dari Secure Asset Fund for Users (SAFU) senilai US$1 miliar, yakni dana cadangan berbasis Bitcoin yang memang disiapkan untuk melindungi nasabah dari pelanggaran keamanan. Selain itu, dukungan dana juga diperoleh dari sebagian Futures Insurance Fund serta kas perusahaan. Langkah ini diambil untuk menjaga kepercayaan pasar setelah sempat terjadi penurunan harga mata uang kripto akibat kekhawatiran nasabah atas keamanan aset mereka di bursa tersebut.
Co-CEO Binance, Richard Teng, menjelaskan bahwa peretasan ini dikategorikan sebagai serangan yang sangat kompleks dan terencana. Para pelaku menggunakan taktik infiltrasi melalui laptop yang telah disusupi, yang kemudian diikuti dengan penggunaan perangkat lunak berbahaya atau malware yang dirancang khusus untuk menghapus jejak aktivitas mereka. Kondisi teknis ini membuat tim investigasi menghadapi tantangan besar dalam melacak alur serangan serta mengidentifikasi titik masuk yang tepat.
Pasca insiden tersebut, layanan penarikan dana sempat dihentikan sementara demi alasan keamanan. Namun, bursa menyatakan bahwa proses pemulihan layanan telah berjalan sesuai jadwal dan ditargetkan kembali beroperasi penuh dalam waktu dekat. Sebagai bentuk transparansi, perusahaan juga merilis laporan bukti cadangan aset terbaru agar pengguna dapat memverifikasi secara mandiri bahwa seluruh aset mereka didukung oleh cadangan dengan rasio minimal 1:1, guna meminimalisir kepanikan di kalangan investor kripto secara global.


