Dewablog.com — Ratusan penumpang kapal pesiar mewah Villa Vie Odyssey kini harus menghadapi ketidakpastian setelah operator memutuskan untuk menghentikan operasional kapal tersebut di Sihanoukville, Kamboja. Keputusan mendadak ini diambil menyusul lonjakan tajam harga bahan bakar global yang membuat biaya operasional kapal menjadi tidak terkendali. Kapal sepanjang 200 meter tersebut awalnya dirancang untuk melakukan perjalanan keliling dunia selama tiga setengah tahun, namun kini harus mengakhiri perjalanannya lebih awal setelah menempuh waktu lebih dari 750 hari di laut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Operator kapal yang berbasis di Amerika Serikat tersebut menyatakan tengah berkoordinasi secara intensif dengan sekitar 200 penumpang yang berada di lokasi saat pengumuman disampaikan. Pihak perusahaan kini fokus membantu proses turun dari kapal serta mengatur penempatan sementara bagi para penumpang di wilayah Kamboja. Kondisi ekonomi perusahaan dilaporkan memburuk drastis seiring dengan kenaikan harga bahan bakar bulanan per kabin di kawasan Asia yang meroket dari 1.800 dolar AS menjadi 8.000 dolar AS atau setara dengan Rp146 juta.

“Hati kami hancur. Rasanya seperti impian kami telah pupus. Banyak pelukan dan air mata yang tercurah saat para penghuni kapal saling menguatkan satu sama lain dalam menghadapi situasi ini,” tutur Lanette Canen dan Johan Bodin, penumpang kapal Villa Vie Odyssey.

Para penumpang mengungkapkan bahwa mereka menerima pemberitahuan resmi dari kepala eksekutif Villa Vie Residences pada Selasa pagi pukul 06.00 waktu setempat, dengan instruksi untuk meninggalkan kapal paling lambat pukul 14.00 di hari yang sama. Situasi ini menambah daftar panjang kendala yang dialami kapal tersebut, mengingat sebelumnya mereka sempat tertunda keberangkatannya dari Belfast, Irlandia Utara, akibat perbaikan teknis yang menelan biaya jutaan poundsterling.

Salah satu penumpang lainnya, Holly Hennessey, menceritakan bahwa pihak operator sebenarnya sempat menawarkan opsi kepada penumpang untuk menanggung biaya tambahan bahan bakar agar perjalanan tetap bisa dilanjutkan dengan rute yang dipangkas. Namun, banyak dari penumpang yang akhirnya memilih untuk turun dan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat setelah menyadari keterbatasan pilihan yang tersedia. Saat ini, para penumpang terpaksa menetap di berbagai hotel di Sihanoukville sambil menanti kejelasan langkah selanjutnya dari pihak perusahaan.

Kota Sihanoukville sendiri kini menjadi sorotan setelah insiden terlantarnya ratusan wisatawan tersebut. Kota pelabuhan yang dulunya dikenal tenang ini, dalam beberapa tahun terakhir telah mengalami transformasi besar dan menjadi pusat aktivitas komersial serta lokasi operasional berbagai bisnis daring. Otoritas setempat dikabarkan terus berupaya melakukan penertiban di tengah dinamika perkembangan kota yang pesat tersebut.

Program hunian di kapal pesiar ini sebelumnya menawarkan konsep gaya hidup mewah bagi para pensiunan dengan harga kabin permanen berkisar antara 120.000 dolar AS hingga 440.000 dolar AS, atau sekitar Rp2,1 miliar hingga Rp8 miliar. Selain opsi kepemilikan, perusahaan juga menyediakan skema sewa bulanan dengan biaya mulai dari 3.500 dolar AS atau sekitar Rp63 juta. Mengingat tingginya investasi yang telah dikeluarkan oleh para penumpang, penghentian operasional ini menjadi pukulan telak bagi mereka yang telah merencanakan masa depan di atas kapal tersebut.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan lebih lanjut mengenai apakah akan ada pengembalian dana atau kompensasi bagi para penumpang yang terdampar. Komunikasi antara operator dan penumpang terus berjalan untuk memitigasi dampak dari penghentian pelayaran global yang sempat dirancang mencakup kunjungan ke hampir 150 negara tersebut. Sementara itu, para penumpang kini hanya bisa menunggu kepastian di tengah ketidakpastian nasib rencana perjalanan jangka panjang mereka.