Dewablog.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan tajam pada perdagangan sesi pertama, Kamis (29/10/2026). Hingga pukul 09.59 WIB, indeks tercatat berada di level 5.171,04, yang berarti mengalami koreksi sebesar 111,27 poin atau setara dengan 2,11 persen. Pergerakan ini cukup kontras mengingat IHSG sempat dibuka menguat pada level 5.305,20 dan bahkan sempat menyentuh titik tertinggi harian di posisi 5.320,90 sebelum akhirnya tertekan oleh aksi jual masif di pasar.
Tekanan jual yang terjadi tak lama setelah pembukaan perdagangan terus berlanjut hingga menyeret indeks mendekati level terendah harian di angka 5.168,38. Aktivitas perdagangan terpantau cukup aktif dengan volume transaksi mencapai 85,14 juta lot, sementara nilai transaksi secara keseluruhan tercatat sebesar Rp3.299,21 miliar. Kondisi pasar yang fluktuatif ini mencerminkan tingginya kehati-hatian investor dalam merespons dinamika ekonomi global yang sedang berlangsung.
Sektor infrastruktur menjadi kontributor terbesar terhadap pelemahan IHSG hari ini dengan koreksi mencapai 4,6 persen. Kondisi serupa juga dialami oleh sektor material dasar yang turun 1,9 persen, serta sektor konsumer kritikal yang melemah 1,6 persen. Sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) menjadi pemberat utama indeks.
Di sisi lain, terdapat sejumlah saham yang mencoba menahan laju koreksi IHSG agar tidak semakin dalam, di antaranya PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Temas Tbk (TMAS), PT United Tractors Tbk (UNTR), serta PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). Investor saat ini tengah menimbang berbagai sentimen global, terutama pasca keputusan The Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen.
Meskipun keputusan tersebut telah diambil, pasar mencermati bahwa kebijakan The Fed kali ini tidak bulat karena adanya perbedaan pendapat di antara para pejabat bank sentral. Dua pejabat, yakni Lisa Cook dan Beth Hammack, secara terbuka mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menekankan bahwa bank sentral tetap berkomitmen mengembalikan tingkat inflasi ke target dua persen, sembari menolak memberikan sinyal pasti mengenai arah kebijakan moneter pada pertemuan mendatang.
Pasar saat ini juga tengah mengantisipasi rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk periode September 2026 yang dijadwalkan akan diumumkan pada Kamis malam. Data PCE merupakan acuan utama bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan. Proyeksi pasar menunjukkan bahwa inflasi inti secara tahunan berpotensi meningkat menjadi 3,1 persen, naik dari posisi bulan sebelumnya sebesar 3,0 persen.
Selain data inflasi, pelaku pasar juga menyoroti kondisi tenaga kerja Amerika Serikat melalui rilis klaim pengangguran. Data terbaru menunjukkan klaim awal pengangguran sempat turun menjadi 194.000 pada pekan yang berakhir 17 Oktober 2026, yang mengindikasikan pasar tenaga kerja di Amerika Serikat masih cukup solid. Namun, berbagai ketidakpastian mulai dari biaya energi akibat eskalasi konflik geopolitik hingga kebijakan perdagangan global tetap menjadi bayang-bayang yang mempengaruhi keputusan korporasi dalam melakukan rekrutmen.
Sementara itu, perhatian investor tidak hanya tertuju pada Amerika Serikat, melainkan juga ke Eropa. Bank Sentral Eropa (ECB) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada hari ini. Konsensus pasar memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga pembiayaan utama di level 2,65 persen dan fasilitas deposito di angka 2,50 persen. Langkah ECB ini sangat krusial bagi pasar global untuk menilai bagaimana bank sentral tersebut merespons risiko inflasi yang dibarengi dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa.
Kombinasi antara rilis data ekonomi Amerika Serikat dan pernyataan dari ECB diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan aset keuangan global, termasuk nilai tukar rupiah dan obligasi negara. Kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang sempat menyentuh level 5,042 persen pasca pengumuman The Fed juga menambah tekanan bagi pasar modal di Indonesia. Investor diharapkan tetap mencermati perkembangan data makro ekonomi ini secara komprehensif agar dapat menentukan langkah investasi yang tepat di tengah volatilitas pasar yang sedang tinggi.


