Dewablog.com — Aksi demonstrasi yang digalang oleh kelompok generasi muda bernama GenZ Reglt! atau Gen Z yang memegang kendali di sejumlah kota besar Jerman berujung pada kerusuhan parah dan aksi penjarahan toko pada malam hari. Unjuk rasa yang pada awalnya berlangsung damai di siang hari tersebut berubah menjadi violent ketika sejumlah kelompok pemuda bertopeng menolak untuk membubarkan diri dan melancarkan serangan terhadap aparat kepolisian.
Eskalasi kekerasan terpantau memuncak di pusat keuangan Frankfurt, serta meluas ke kota-kota besar lainnya seperti Berlin, Cologne, dan Hamburg. Pihak kepolisian terpaksa mengerahkan meriam air, semprotan merica, serta pasukan antihuru-hara untuk menghalau massa yang melemparkan kembang api, batu, botol kaca, hingga bom molotov ke arah petugas tanggap darurat yang sedang bersiaga di lapangan.
Situasi paling mencekam dilaporkan terjadi di kawasan perbelanjaan utama Frankfurt, di mana perusuh bertopeng membobol dan menjarah beberapa gerai bisnis. Salah satu sasaran utama penjarahan adalah sebuah toko senjata yang kaca jendelanya dihancurkan oleh massa. Kepolisian setempat mengonfirmasi telah menangkap seorang tersangka di lokasi dan mengamankan dua pucuk senjata api hasil jarahan tersebut.
Selain toko senjata, harian tempatan Bild melaporkan bahwa sebuah toko sepatu dan gerai parfum terkenal turut menjadi target penjarahan oleh massa yang mengamuk. Guna mencegah kerusuhan semakin membesar, aparat keamanan segera menutup sebagian besar akses jalan utama perbelanjaan di Frankfurt dengan menempatkan kendaraan barikade dan personel antihuru-hara untuk mengisolasi area kerusuhan.
Suasana di pusat kota Frankfurt diwarnai kekacauan dengan helikopter kepolisian yang terus melakukan pemantauan udara di atas lokasi kejadian. Suara ledakan dari kembang api dan bom bensin terdengar berkali-kali di jalanan, sementara sedikitnya satu petugas kepolisian dilaporkan mengalami luka-luka dan harus segera mendapatkan perawatan medis darurat.
Kekerasan serupa juga pecah di kota Cologne, terutama di kawasan sekitar stasiun kereta api utama. Massa pengunjuk rasa yang beringas menyerang petugas layanan darurat dengan melemparkan botol kaca dan bahkan melempar sebuah sepeda ke arah barisan aparat keamanan. Aksi brutal tersebut memicu keprihatinan mendalam dari pimpinan kepolisian setempat yang menilai fokus aksi telah bergeser dari tujuan utamanya.
“Kami sangat prihatin karena aksi damai yang dilakukan oleh kaum muda demi masa depan mereka justru disusupi oleh kelompok ekstremis yang hanya berniat melakukan kekerasan,” tegas Kepala Kepolisian Cologne, Johannes Hermanns.
Hermanns menambahkan bahwa penyusupan kelompok radikal ini telah merusak penyampaian aspirasi murni generasi muda yang seharusnya dapat berjalan secara tertib dan konstruktif. Pihak kepolisian Cologne menegaskan akan mengambil tindakan hukum yang tegas terhadap seluruh pelaku kekerasan dan perusakan fasilitas umum di wilayah hukumnya.
Sementara itu di ibu kota Berlin, demonstrasi yang pada awalnya diikuti oleh ribuan warga secara bertahap menyusut pada malam hari namun berubah menjadi aksi anarkis. Bentrokan sengit antara kelompok perusuh dan aparat mengakibatkan sedikitnya 27 petugas kepolisian mengalami luka-luka akibat pelemparan benda keras. Kepolisian Berlin mengonfirmasi telah menahan setidaknya 56 orang pengunjuk rasa untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Gelombang kerusuhan juga melanda kota Hamburg, di mana sekelompok pemuda berpakaian hitam-hitam menyalakan kembang api berbahaya dan membakar barikade jalanan di beberapa titik strategis. Lembaga penyiaran publik NDR melaporkan bahwa aparat kepolisian Hamburg bergerak cepat menindak aksi perusakan tersebut dan telah mengamankan setidaknya 120 orang yang diduga terlibat dalam kekacauan di kota pelabuhan tersebut.
Rangkaian aksi demonstrasi Gen Z di Jerman ini diketahui terinspirasi oleh gerakan protes serupa yang sebelumnya marak terjadi di Prancis dan Italia. Kelompok pemuda ini mendesak para elite politik dan pembuat kebijakan agar memberikan perhatian lebih serius terhadap aspirasi, kesejahteraan, serta masa depan generasi muda di tengah perubahan situasi ekonomi dan sosial Eropa.
Hingga saat ini, pihak berwenang di seluruh kota terdampak masih terus bersiaga ketat guna mengantisipasi potensi bentrokan susulan. Pemerintah dan aparat kepolisian Jerman mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tetap tenang serta menolak segala bentuk provokasi aksi kekerasan yang berpotensi merusak ketertiban umum.


