Dewablog.com — Aksi demonstrasi yang diorganisir oleh kelompok GenZ Regelt! di Jerman berujung pada kerusuhan hebat di sejumlah kota besar, termasuk Frankfurt, Berlin, Cologne, dan Hamburg pada Minggu (1/11/2026). Massa yang mayoritas terdiri dari kaum muda tersebut awalnya turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi kepada elite politik, namun situasi berubah menjadi kekerasan ketika malam tiba dan kelompok pemuda menolak untuk membubarkan diri.
Puncak ketegangan terjadi di pusat keuangan Frankfurt, di mana aparat kepolisian terpaksa mengerahkan meriam air dan semprotan merica untuk membubarkan massa. Pengunjuk rasa merespons tindakan tersebut dengan melemparkan batu, kembang api, hingga bom bensin ke arah petugas keamanan. Kondisi di lapangan dilaporkan sangat kacau dengan suara ledakan yang terdengar di sepanjang jalanan utama kota.
Kepolisian setempat secara resmi mengategorikan peristiwa tersebut sebagai kerusuhan yang sarat dengan kekerasan. Aparat menyebut bahwa para perusuh tidak hanya menyerang petugas, tetapi juga melakukan perusakan fasilitas umum secara masif. Beberapa jendela toko dilaporkan pecah setelah dilempari benda keras oleh massa yang sebagian besar mengenakan topeng untuk menutupi identitas mereka.
“Jendela di beberapa toko telah dipecahkan. Bom molotov juga dilemparkan ke arah petugas tanggap darurat,” tegas pernyataan resmi dari pihak kepolisian.
Aksi penjarahan menjadi sorotan utama dalam insiden ini, di mana kelompok perusuh berhasil membobol sejumlah toko, termasuk toko senjata. Pihak kepolisian menyatakan telah menangkap setidaknya satu orang tersangka dan menyita dua pucuk senjata yang sempat dijarah. Selain toko senjata, harian lokal Bild melaporkan bahwa toko sepatu dan toko parfum juga menjadi sasaran penjarahan oleh oknum pengunjuk rasa.
Sebagai langkah pengamanan, pihak berwenang segera menutup akses ke jalan-jalan perbelanjaan utama di Frankfurt. Pasukan antihuru-hara dikerahkan untuk memblokade area tersebut agar kerusuhan tidak meluas ke wilayah lainnya. Sebuah helikopter polisi terus memantau pergerakan massa dari udara sepanjang malam guna memastikan situasi tetap terkendali meski ketegangan masih terasa di beberapa titik.
Hingga saat ini, tercatat setidaknya satu petugas kepolisian mengalami luka-luka akibat bentrokan tersebut dan telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis intensif. Aksi yang terinspirasi dari gerakan serupa di Prancis dan Italia ini seharusnya menjadi panggung bagi generasi muda Jerman untuk menuntut perhatian lebih terhadap isu-isu krusial. Namun, keterlibatan kelompok anarkis yang menunggangi aksi tersebut justru mengubah aspirasi damai menjadi tindak kriminal yang merugikan banyak pihak.
Pemerintah Jerman kini tengah melakukan evaluasi mendalam terkait eskalasi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Gen Z tersebut. Aparat penegak hukum berkomitmen untuk memproses seluruh pihak yang terlibat dalam penjarahan dan penyerangan terhadap petugas. Situasi di kota-kota besar kini dalam pengawasan ketat, sementara masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap potensi kerusuhan susulan yang mungkin terjadi di masa depan.


