Dewablog.com — Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda, Provinsi Lampung, dilaporkan kembali mengalami serangkaian aktivitas vulkanik berupa erupsi sebanyak tujuh kali dalam kurun waktu satu malam pada Sabtu (31/10/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat rentetan letusan tersebut dimulai sejak sore hari hingga menjelang tengah malam dengan intensitas yang bervariasi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Badan Geologi pada pukul 21.38 WIB, erupsi terbaru tercatat terjadi tepat pada pukul 20.50 WIB. Meskipun aktivitas vulkanik terpantau cukup intens melalui peralatan pemantauan, tinggi kolom abu akibat letusan tersebut tidak dapat teramati secara visual karena kondisi di lapangan yang tertutup kegelapan malam atau faktor cuaca saat pengamatan berlangsung.

“Telah terjadi erupsi G Anak Krakatau, Lampung, pada tanggal 31 Oktober 2026 pukul 20.50 WIB, namun tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi masih berlangsung saat laporan sedang dibuat,” tulis Badan Geologi dalam pernyataan resminya.

Rangkaian erupsi pada malam itu diawali dengan aktivitas vulkanik pada pukul 18.30 WIB yang tidak memperlihatkan kolom erupsi serta tidak disertai suara dentuman maupun gemuruh. Tak lama berselang, aktivitas kembali meningkat pada pukul 19.42 WIB dengan kondisi serupa, di mana pengamatan visual tetap sulit dilakukan oleh petugas di pos pengamatan yang terus berjaga memantau perkembangan gunung api tersebut.

Pada pukul 19.59 WIB, instrumen seismogram merekam adanya getaran erupsi dengan amplitudo maksimum mencapai 51 milimeter dan durasi sekitar satu menit sepuluh detik. Fenomena ini berlanjut pada pukul 20.02 WIB dengan kekuatan yang sedikit lebih besar, yakni amplitudo maksimum 55 milimeter dan durasi satu menit 57 detik, meskipun tetap tidak ada suara gemuruh atau dentuman yang terdengar oleh warga sekitar.

Erupsi kelima terjadi pada pukul 20.06 WIB dengan rekaman seismogram menunjukkan amplitudo 51 milimeter selama dua menit 36 detik, disusul letusan keenam pada pukul 20.11 WIB yang memperlihatkan konsistensi aktivitas vulkanik. Rangkaian aktivitas vulkanik ini kemudian tercatat kembali pada pukul 20.50 WIB yang menjadi rangkaian penutup aktivitas seismik signifikan pada periode laporan pengamatan malam tersebut.

Menanggapi eskalasi aktivitas tersebut, pihak Badan Geologi memastikan bahwa tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau status Siaga. Status ini tetap dipertahankan mengingat karakter gunung api ini yang masih sangat aktif dan memiliki fluktuasi energi yang cukup tinggi, sehingga diperlukan kewaspadaan penuh dari seluruh pihak yang berada di sekitar kawasan tersebut.

Pihak berwenang mengeluarkan rekomendasi ketat bagi masyarakat, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak mendekati kawah aktif dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi. Larangan aktivitas di dalam zona bahaya ini bertujuan untuk meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa apabila terjadi letusan eksplosif secara tiba-tiba yang dapat melontarkan material pijar ke segala arah.

Selain radius utama, Badan Geologi juga menekankan larangan aktivitas dalam radius satu kilometer dari pulau baru yang berada di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau. Pembatasan ini dilakukan karena wilayah tersebut dianggap sangat rentan terhadap dampak langsung aktivitas vulkanik primer maupun sekunder yang bisa terjadi sewaktu-waktu akibat runtuhan material atau aliran lava.

Ancaman bahaya yang mungkin timbul mencakup lontaran batu pijar, hujan abu lebat, hingga aliran lava yang dapat mengarah ke pesisir pulau di sekitar kawah. Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi erupsi sekunder yang terjadi akibat kontak antara lava panas dengan air laut atau air hujan, yang dapat memicu ledakan freatik kuat di sekitar garis pantai pulau gunung api tersebut.

Di tengah situasi ini, Badan Geologi menghimbau warga di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung untuk tetap tenang dan menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa tanpa harus merasa tertekan. Penegasan ini diberikan guna meredam kekhawatiran masyarakat terhadap isu-isu tidak berdasar yang sering mengaitkan erupsi Gunung Anak Krakatau dengan potensi tsunami besar dalam waktu dekat.

Masyarakat diminta untuk tidak mempercayai informasi yang bukan berasal dari sumber resmi pemerintah dan selalu berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat jika merasakan adanya perubahan situasi. Verifikasi informasi menjadi sangat krusial guna mencegah kepanikan massal di wilayah pesisir Selat Sunda yang secara historis memiliki kaitan erat dengan aktivitas vulkanik gunung ini.

Bagi pihak-pihak yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai perkembangan aktivitas vulkanik, PVMBG menyediakan saluran komunikasi resmi di kantor pusat Bandung maupun Pos Pengamatan Gunung Api Krakatau di Pasauran, Banten. Pengawasan secara nonstop selama 24 jam terus dilakukan oleh para petugas pengamat untuk memantau setiap fluktuasi energi yang keluar dari kawah aktif.

Gunung Anak Krakatau sendiri merupakan gunung api yang tumbuh di sisa kaldera letusan katastrofik Krakatau tahun 1883 dan terus mengalami fase pertumbuhan hingga saat ini. Karakteristiknya yang terus membangun tubuh baru melalui rangkaian erupsi membuat gunung ini menjadi salah satu objek pengamatan vulkanologi paling intensif di dunia guna menjamin keamanan jalur pelayaran dan pemukiman di sekitarnya.

Hingga berita ini diturunkan, tim ahli dari Badan Geologi masih terus melakukan analisis mendalam terhadap data seismik dan deformasi untuk menentukan langkah mitigasi selanjutnya. Peningkatan kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama bagi seluruh pemangku kepentingan di wilayah terdampak guna menjamin keselamatan warga di sepanjang pesisir Lampung dan Banten dari segala kemungkinan ancaman bencana.