Dewablog.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan sesi pertama, Selasa (3/11/2026). Hingga pukul 11.02 WIB, indeks acuan nasional tersebut terperosok ke level 4.994,43, mencatatkan koreksi sebesar 102,40 poin atau setara dengan 2,01 persen. Penurunan tajam ini membuat IHSG kembali berada di bawah level psikologis 5.000 yang sebelumnya sempat menjadi area pertahanan bagi pelaku pasar.
Pergerakan indeks hari ini sebenarnya sempat dibuka menguat pada level 5.126,53, sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Pada awal perdagangan sekitar pukul 09.00 WIB, indeks sempat menyentuh titik tertinggi harian di level 5.143,58. Namun, momentum penguatan tersebut tidak bertahan lama seiring dengan meningkatnya tekanan jual di berbagai sektor utama yang menyeret indeks berbalik arah secara bertahap.
Upaya untuk melakukan pemulihan sempat terlihat ketika indeks mencoba melakukan rebound terbatas di kisaran level 5.080 pada awal sesi. Meskipun demikian, aksi jual yang masif kembali mendominasi pasar sehingga menyeret indeks semakin dalam. Memasuki pukul 10.00 WIB, IHSG tergelincir ke kisaran 5.020, sempat mencoba bangkit tipis ke area 5.040, sebelum akhirnya terus tertekan hingga menembus level 5.000 dan mencapai titik terendah harian di angka 4.993,20 menjelang pukul 11.00 WIB.
Secara keseluruhan, volume transaksi pada sesi pertama mencapai 102,03 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp3,92 triliun. Tekanan pelemahan ini dipicu oleh koreksi tajam pada sektor infrastruktur yang anjlok 3,1 persen, diikuti oleh sektor material dasar yang turun 2,8 persen, serta sektor energi yang terkoreksi 2,7 persen. Beberapa saham dengan kapitalisasi pasar besar yang menjadi pemberat indeks antara lain PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Astra International Tbk, PT Barito Pacific Tbk, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk.
Pasar keuangan Indonesia hari ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen dari dalam dan luar negeri. Sentimen negatif datang dari gelaran Pemilu sela Amerika Serikat yang berlangsung pada hari ini, Selasa (3/11/2026). Ajang ini menjadi pertaruhan besar bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik di tengah upaya Partai Demokrat untuk merebut kendali Kongres. Berdasarkan data University of Florida Election Lab, antusiasme pemilih cukup tinggi dengan lebih dari 57 juta warga AS telah memberikan suara lebih awal hingga Senin, angka yang melampaui partisipasi pada pemilu sela tahun 2022.
Selain ketidakpastian politik di AS, pasar juga merespons penurunan tajam harga minyak mentah dunia yang anjlok lebih dari 7 persen pada perdagangan Senin (2/11/2026). Penurunan harga minyak ini dipicu oleh harapan meredanya konflik antara AS-Israel melawan Iran setelah adanya dialog damai. Harga minyak Brent sempat ditutup turun 7,63 persen ke level US$104,77 per barel, sementara minyak WTI AS merosot 7,36 persen ke level US$96,46 per barel. Bagi Indonesia sebagai importir neto minyak, penurunan harga komoditas ini diharapkan dapat meringankan tekanan pada APBN dan laju inflasi domestik.
Di dalam negeri, pelaku pasar tengah menantikan hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang dijadwalkan berlangsung hari ini. Pertemuan tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran jelas mengenai kondisi sistem keuangan Indonesia sepanjang kuartal III tahun 2026. Selain itu, publik menunggu kebijakan baru dari anggota KSSK untuk merespons gejolak pasar modal serta pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini.
Sentimen global lainnya datang dari sektor manufaktur China yang menunjukkan tanda-tanda pelambatan. Indeks PMI Manufaktur China versi RatingDog turun tipis ke level 52,0 pada Oktober 2026, dari sebelumnya 52,1 pada bulan September. Meskipun mengalami penurunan, angka tersebut masih berada di atas ekspektasi pasar sebesar 51,6 dan tetap menunjukkan fase ekspansi selama 11 bulan berturut-turut. Produksi di sektor manufaktur China dilaporkan tumbuh pada laju tercepat dalam enam bulan terakhir yang didorong oleh lonjakan pesanan baru dan peluncuran produk inovasi baru di pasar global.
Kombinasi dari berbagai faktor tersebut menciptakan volatilitas tinggi di bursa domestik, yang memaksa investor untuk bersikap lebih waspada dalam menentukan posisi portofolio mereka. Ketidakpastian arah kebijakan dari rapat KSSK dan dinamika politik AS menjadi faktor penentu utama yang akan membayangi pergerakan IHSG hingga penutupan perdagangan hari ini. Para pelaku pasar kini menunggu sinyal lebih lanjut dari otoritas keuangan untuk mendapatkan arah kebijakan yang lebih pasti di tengah ketidakpastian global yang masih terus berlangsung.


