Dewablog.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan signifikan pada perdagangan sesi pagi, Jumat (30/10/2026). Hingga pukul 09.42 WIB, indeks terpantau merosot 106,03 poin atau setara 2,08% ke level 4.992,03. Kondisi pasar yang tertekan sejak awal pembukaan menyebabkan indeks sempat menyentuh level terendah harian di 4.979,34 setelah gagal mempertahankan posisi di atas level psikologis 5.000.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pergerakan indeks sepanjang pagi ini didominasi oleh tekanan jual yang intensif. Meskipun sempat dibuka pada level 5.066,94 dan mencoba naik hingga ke titik tertinggi harian di 5.116,01, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Indeks kemudian bergerak turun hampir tanpa jeda, menembus berbagai level pendukung di angka 5.100 dan 5.050 sebelum akhirnya terperosok ke bawah ambang batas psikologis 5.000. Aktivitas perdagangan hingga pertengahan sesi pertama mencatatkan volume transaksi sebesar 156,85 juta lot dengan nilai mencapai sekitar Rp3,37 triliun.

Tekanan utama pelemahan pasar berasal dari sektor-sektor berkapitalisasi besar. Sektor infrastruktur tercatat mengalami koreksi paling dalam sebesar 5,2%, diikuti oleh sektor material dasar yang anjlok 4,4%, serta sektor energi yang merosot 3,7%. Saham-saham yang menjadi pemberat utama indeks di antaranya PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

Di sisi lain, beberapa saham sempat memberikan upaya perlawanan untuk menekan koreksi, seperti saham PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Astra International Tbk (ASII), PT Apollo Global Interactive Tbk (APLI), dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP). Sentimen pasar saat ini dipengaruhi oleh volatilitas pasar global, termasuk pelemahan di Wall Street serta data ekonomi Amerika Serikat yang dinilai cukup kencang.

Bank Indonesia melalui Gubernur Destry Damayanti menegaskan bahwa otoritas moneter tetap mengutamakan data domestik dalam menentukan kebijakan suku bunga. Keputusan BI Rate pada November 2026 tidak akan secara otomatis mengikuti langkah bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, meski tekanan terhadap nilai tukar rupiah tetap diwaspadai.

“Desain suku bunga acuan BI Rate akan terus konsisten sesuai dengan perkembangan data-data perekonomian tanah air dan perkembangan global,” ujar Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti.

Dalam merespons dinamika pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga telah mengeluarkan lima saham dari daftar efek short selling untuk periode November 2026, yang mencakup saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Astra International Tbk (ASII), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Langkah ini diambil di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan Indonesia.

Kondisi ekonomi global saat ini turut diwarnai dengan kenaikan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Amerika Serikat sebesar 0,5% pada September 2026, yang menjadi level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Di Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) memilih untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Oktober 2026, dengan suku bunga operasi pembiayaan utama tetap di level 2,65% dan suku bunga fasilitas simpanan di angka 2,50%.

Sementara itu, ekonomi Amerika Serikat mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 3,4% pada kuartal III-2026, angka yang melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,2% dan didorong oleh kuatnya investasi di sektor kecerdasan buatan. Di sisi lain, pasar kini menanti keputusan suku bunga dari Bank Sentral Jepang (BOJ) serta data pertumbuhan ekonomi zona euro dan tingkat penganggurannya yang dijadwalkan rilis pada Jumat sore ini.

Pasar obligasi domestik turut menunjukkan dinamika di mana imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sempat melandai ke level 7,643% pada Kamis kemarin. Meskipun menunjukkan tren penurunan imbal hasil yang menandakan kenaikan harga obligasi, angka tersebut masih berada di kisaran tertinggi dalam enam tahun terakhir. Para investor saat ini tampak sangat berhati-hati dalam merespons berbagai rilis data ekonomi yang padat di akhir pekan ini.