Dewablog.com — Mantan guru sekolah dasar di Zhongshan, China selatan, Michael Mai, resmi mencatatkan namanya dalam jajaran miliarder dunia menyusul lonjakan signifikan saham perusahaannya pada perdagangan perdana di Bursa Efek Shenzhen. Pria berusia 62 tahun yang kini menjabat sebagai Chairman sekaligus CEO Crown New Materials Technology tersebut mengantongi kekayaan bersih yang diperkirakan mencapai 2,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp39 triliun berkat kepemilikan sahamnya.
Perusahaan manufaktur penyedia bahan perekat dan produk adhesif khusus tersebut mencatatkan kinerja perdagangan perdana yang sangat gemilang di pasar saham terbesar kedua di China daratan. Berdasarkan data Bursa Efek Shenzhen, harga saham Crown New Materials Technology melesat drastis hingga 787 persen dari harga penawaran awal sebesar 16,98 yuan atau sekitar Rp40.000 per lembar, hingga sempat menyentuh level tertinggi di posisi 150,58 yuan atau sekitar Rp350.000 per lembar saham.
Crown New Materials Technology merupakan produsen komponen perekat canggih yang menyuplai berbagai kebutuhan teknologi untuk merek-merek global ternama, termasuk Tesla dan Apple. Portofolio produk perusahaannya mencakup beragam kebutuhan industri ritel dan manufaktur berteknologi tinggi, mulai dari bahan perekat untuk struktur atap kendaraan listrik hingga perekat khusus semikonduktor pada perangkat ponsel pintar.
Kesuksesan finansial akibat melantainya perusahaan di bursa saham ini juga turut dirasakan oleh sang kakak, Mai Huixia. Wanita berusia 64 tahun tersebut menjabat sebagai Wakil Ketua Perusahaan dan memegang porsi kepemilikan saham yang signifikan. Nilai kekayaan bersih Huixia kini diperkirakan melambung hingga menyentuh angka 2 miliar dolar AS atau setara dengan Rp31 triliun.
Sebelum sukses memimpin perusahaan teknologi skala internasional, Michael Mai meniti kariernya sebagai seorang pendidik dengan mengajar di sebuah sekolah dasar di Kota Zhongshan, Provinsi Guangdong, China selatan. Kota tersebut kelak menjadi lokasi kantor pusat dan markas besar bagi Crown New Materials Technology yang didirikannya bersama sang kakak pada tahun 2000 silam.
Seiring perjalanan bisnisnya, perusahaan yang didirikan pengusaha berpaspor Australia dan berstatus penduduk tetap Hong Kong tersebut kini telah berkembang pesat. Saat ini, Crown New Materials Technology mengoperasikan empat fasilitas pabrik manufaktur utama yang tersebar di wilayah Tiongkok, serta satu pabrik manufaktur tambahan yang beroperasi di Vietnam untuk memenuhi permintaan pasar global.
Kendati sempat mengalami kenaikan harga yang sangat tajam pada hari pertama penawaran, pergerakan saham perusahaan mulai mengalami penyesuaian dan melunak ke kisaran harga 77 yuan per lembar saham pada perdagangan Rabu pagi. Fluktuasi harga yang sangat dinamis pada debut perdana tersebut mendorong pihak manajemen perusahaan untuk memberikan imbauan resmi kepada publik.
Manajemen Crown New Materials Technology merilis pernyataan resmi yang meminta para pelaku pasar dan calon investor untuk senantiasa bersikap tenang dan rasional dalam mengambil keputusan investasi. Langkah tersebut diambil guna mengantisipasi volatilitas berlebih yang kerap terjadi pada saham-saham baru yang melantai di bursa efek.
Lonjakan harga saham perusahaan perekat ini tergolong fenomena yang menarik karena terjadi di tengah kondisi pasar modal Tiongkok yang sedang mengalami tekanan cukup berat. Pasar saham di negara tersebut belakangan ini terseret ke dalam fase lemah atau bearish akibat menurunnya tingkat konsumsi masyarakat serta kekhawatiran para investor terhadap potensi penurunan di sektor industri kecerdasan buatan.
Sejak mencapai titik tertingginya pada Juni lalu, indeks saham utama di Tiongkok secara keseluruhan telah merosot lebih dari 20 persen. Kondisi pasar yang tertekan ini memicu langkah antisipatif dari pemerintah Tiongkok untuk menjaga kestabilan perekonomian dan kepercayaan para pelaku pasar modal domestik maupun internasional.
Sebagai bentuk langkah stabilisasi ekonomi, pemerintah Tiongkok mengambil tindakan tegas dengan menyuntikkan dana stimulus sebesar 19 miliar dolar AS ke dalam exchange-traded funds dua minggu sebelumnya. Intervensi keuangan berskala besar dari otoritas Beijing ini tercatat sebagai yang terbesar sejak awal 2025, saat kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengguncang stabilitas pasar keuangan dunia.
Hingga saat ini, upaya konfirmasi terus dilakukan kepada manajemen Crown New Materials Technology mengenai rencana ekspansi bisnis serta langkah strategis perusahaan ke depan pasca-IPO. Perusahaan manufaktur bahan perekat tersebut diperkirakan akan terus memperkuat posisi pasarnya di rantai pasok teknologi global.


