Dewablog.com — Ribuan pendukung gerakan mahasiswa “Students Win” membanjiri pusat Kota Belgrade, Serbia, pada Kamis (22/10/2027) untuk menghadiri kampanye terakhir mereka. Aksi massa yang meriah ini digelar menjelang pemilihan umum yang krusial pada Minggu (25/10/2027), menjadi penanda kesiapan gerakan tersebut untuk secara langsung menantang dominasi politik Presiden Aleksandar Vucic dan partainya yang telah berkuasa selama lebih dari satu dekade.
Dalam kampanye yang dipenuhi antusiasme tersebut, para peserta dengan semangat meneriakkan slogan-slogan perubahan, menyanyikan lagu-lagu nasional, serta mengibarkan bendera Serbia. Mereka juga menyalakan suar, menciptakan suasana yang penuh gairah dan energi di tengah kerumunan yang meluap, secara jelas menunjukkan besarnya dukungan terhadap daftar kandidat yang diusung oleh “Students Win” dalam kontestasi politik mendatang.
Pemilihan umum yang akan datang ini merupakan ujian politik yang sangat signifikan bagi pemimpin veteran Aleksandar Vucic, mengingat Partai Progresif Serbia (SNS) yang dipimpinnya telah memegang kendali pemerintahan secara penuh selama 12 tahun terakhir. Gerakan mahasiswa, yang semula aktif menggalang protes sejak tahun 2024, kini telah bertransformasi menjadi kekuatan politik alternatif dengan mengajukan 250 kandidat untuk bersaing memperebutkan kursi di parlemen nasional, menandai babak baru dalam perjuangan mereka.
Lahirnya gerakan ini, yang kini menjadi penantang serius, berakar dari peristiwa tragis runtuhnya kanopi stasiun kereta api di Novi Sad pada tahun 2024. Insiden tersebut menewaskan 16 orang dan dengan cepat memicu gelombang demonstrasi besar-besaran yang dipimpin oleh mahasiswa di seluruh Serbia. Protes-protes tersebut tidak hanya menuntut pertanggungjawaban atas tragedi tersebut, tetapi juga secara lebih luas menyoroti dugaan korupsi yang merajalela dan mendalam di berbagai sektor pemerintahan dan infrastruktur negara.
Natalija Vujisic, salah seorang pendukung setia “Students Win” yang turut hadir dalam kampanye akbar itu, mengungkapkan harapannya yang mendalam akan masa depan yang lebih baik bagi Serbia. Ia secara tegas menyatakan keinginannya untuk memperjuangkan sebuah negara di mana anak-anaknya dapat tumbuh besar di lingkungan yang bersih dari korupsi, lebih adil, dan bebas dari praktik-praktik yang merugikan masyarakat.
Senada dengan sentimen tersebut, pendukung lainnya, Viktor Milenkovic, memandang kampanye ini sebagai sebuah platform vital untuk secara terbuka menunjukkan kekuatan dan solidaritas yang kuat terhadap gerakan protes mahasiswa. Menurutnya, acara tersebut berhasil membuktikan besarnya dukungan publik yang terus tumbuh terhadap agenda perubahan radikal yang dibawa oleh “Students Win” serta para kandidat muda yang mereka usung.
Sebuah jajak pendapat independen yang dirilis pada pekan yang sama menunjukkan bahwa dukungan terhadap gerakan mahasiswa ini telah mencapai tingkat yang hampir seimbang dengan Partai Progresif Serbia (SNS), yang merupakan kekuatan politik utama dan fondasi kekuasaan Presiden Vucic. Hasil survei ini secara jelas mengindikasikan potensi pergeseran lanskap politik yang signifikan dan ketatnya persaingan dalam pemilu mendatang.
Dengan demikian, pemilihan umum yang akan digelar pada Minggu mendatang bukan hanya sekadar ajang perebutan suara semata, melainkan juga menjadi momentum krusial dan penentu bagi gerakan mahasiswa. Ini adalah kesempatan emas mereka untuk secara langsung menguji seberapa besar dukungan publik yang selama ini mereka kumpulkan melalui demonstrasi di berbagai wilayah Serbia dapat diterjemahkan menjadi kekuatan politik riil di bilik suara. Transformasi dari aksi jalanan menjadi kontestasi politik formal ini menjadi penentu arah perjuangan mereka ke depan.


